Sepi Pembeli Akibat Lingkar Nagreg, Pedagang Gelar Aksi Demo

Red: Didi Purwadi

Ahad 04 Sep 2011 08:47 WIB

Ratusan kendaraan pemudik memadati ruas Jalan Raya Nagreg, Ahad (28/8). Foto: Antara/Fahrul Jayadiputra Ratusan kendaraan pemudik memadati ruas Jalan Raya Nagreg, Ahad (28/8).

REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG - Ratusan pedagang di Pamucatan Nagreg mendesak pemerintah memberi solusi bagi mereka yang terancam sepi pembeli pasca operasional jalur Lingkar Nagreg.

"Kami pada pedagang tidak menolak jalur Lingkar Nagreg. SilaHkan saja karena sudah jelas ada Perpresnya terkait jalan itu. Namun, diharapkan pemerintah memberi solusi bagi para pedagang, khususnya di jalur kiri, yang pasti sepi pasca operasional jalan itu," kata Jejen (35) salah seorang pedagang Nagreg di Nagreg, Ahad (4/9).

Menurut Jejen, pedagang berharap pemerintah memenuhi janjinya dengan mengalihkan sebagian arus lalu lintas ke jalur Nagreg lama agar pedagang di Pamucatan bisa tetap berusaha. Ia meminta pengguna jalan dari arah Tasikmalaya dan Garut dibebaskan untuk memilih jalan baik ke jalur lingkar maupun jalur Nagreg lama.

"Jalur ke Nagreg lama jangan ditutup, biarkan pengguna jalan memilih jalur. kalau sudah dibuka bebas, kami tidak akan nuntut macem-macem bila kendaraan memilih Lingkar Nagreg. Kalau menutup jalur itu, jelas kami juga tidak setuju," kata Jejen.

Hal senada juga diungkapkan oleh Dadang Kadarisman yang menyebutkan para pedagang tidak menuntut penutupan jalur Lingkar Nagreg karena jalan itu dibangun untuk masyarakat. Namun, ia berharap jalan itu tidak disatu arahkan bagi kendaraan dari arah barat ke timur.

"Sama sekali tidak berharap jalur Lingkar Nagreg ditutup, tapi tolong jalan ke jalur lama tetap didua-arahkan. Jangan matikan usaha kami yang hanya bisa berjualan makanan di kawasan Nagreg ini," kata Dadang.

Selain itu, bila jalur Nagreg lama disatu arahkan, arus kendaraan sangat kencang di kawasan itu dan sangat membahayakan bagi pengendara maupun bagi masyarakat yang menyeberang. "Mulai Rabu nanti anak-anak kami mulai masuk sekolah. Kami sagat khawatir bila disatu-arahkan, kendaraan kencang dan bisa membahayakan anak-anak kami," kata Dadang.

Baik Dadang maupun Jejen menyebutkan, sejak 10 hari terakhir pada pedagang Nagreg khususnya di sisi kiri dari arah timur ke barat tidak mendapat penghasilan akibat arus lalu lintas disatu-arahkan. "Kami sudah bermusyawarah dengan aparat pemerintahan, janjinya memberi solusi bagi kami dan tetap mengalirkan arus lalu lintas dari arah timur ke Nagreg lama... kenyataanya kemarin kami dininabobokan," kata Dadang.

Menurut dia, bila tidak ada solusi dan ada pembatasan kendaraan yang melintas, maka tidak menutup kemungkinan demo pedagang akan berlanjut.

Terpopuler