Tertutup Kala Perang, Kini Pasar Shorjah Dibuka Kembali Saat Ramadhan

Rep: Agung Sasongko/ Red: Sadly Rachman

Rabu 10 Aug 2011 13:13 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, BAGHDAD—Kejadian kekerasan, perpecahan dan pertumpahan darah seolah menjadi pemandangan umum di Irak. Kompleksitas persoalan yang mendera rakyat Irak tampak sirnah ketika mereka berbicara soal pasar Shorjah, Baghdad.

Pasar Shorjah berdiri 700 tahun lalu.  Kemegahan pasar ini terhenti semenjak invasi AS dan tergulingnya rezim Saddam Hussein.  Kini, warga Baghdad, bersuka cita menyambut kembali dibukanya pasar kebanggaan mereka. Apalagi, bulan suci Ramadhan telah tiba, dan mereka perlu membeli belanja untuk memenuhi kebutuhan selama Ramadhan.

Shorjah didirikan era Dinasti Abbasiyah. Melihat dari era dinasti yang berkuasa, pasar Shorjah merupakan pasar tertua di Baghdad. Di masa itu, kata Abu, pembeli dan pedagang menjajakan barang dagangan mereka dengan menggunakan keledai atau kuda yang menarik gerubak. Jalan seolah menjadi sempit lantaran pasar dipenuhi para konsumen dari segala penjuru Baghdad.

Sayang, kerinduan warga Bagdad terhadap pasar Shorjah tercemar lonjakan harga kebutuhan bahan pokok. Belum lagi, pertumpahan darah yang masih melanda ibukota dalam beberapa tahun terakhir.

Kegiatan pasar Shorjah secara resmi ditutup sejak 2007 silam. Kekerasan yang mengarah sekterian mengakibatkan jalan utama menuju pasar itu ditutup. Meski kondisi terkini Irak belum menunjukan perkembangan lebih baik, pasar Shorjah dibuka kembali.

Semasa invasi sekutu, Shorjah merupakan area pertempuran pasukan AS dan Irak, serta pasukan AS dan gerilyawan Irak. Sisa-sisa peperangan terlihat dari dinding beton yang porak poranda. Hingga kini nuansa perang masih terasa.

Masyarakat Irak optimis Shorjah akan bangkit kembali. Bagi mereka, Shorja merupakan simbol kemakmuran masyarakat Irak.

 

Courtesy of Youtube

Photo Stock by Google