REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Lebih dari 1.442 tahun yang lalu di bulan Ramadhan, seorang pemuda mendaki Gunung Cahaya dan mencari tempat perlindungan di Gua Hira. Dia adalah pria muda yang tegap, rambutnya bergelombang dan lembab karena aktivitasnya di tengah panasnya gurun.
Tak jarang, tetesan keringatnya mengalir di dahinya. Wajahnya cerah dan akan bersinar seperti bulan purnama saat tersenyum. Pria tersebut bernama Muhammad bin Abdullah SAW.
Dia meninggalkan masyarakatnya selama beberapa pekan. Demi bertahan di perjalanannya, dia membawa makanan dan minumnya. Dia adalah orang kesayangan rakyat Makkah dan merupakan cucu dari salah satu kepala suku Hashemite serta suami dari pengusaha wanita terkaya di komunitas pedagang.
Mencari satu Tuhan
Di tengah gurun, bermil-mil jauhnya, dia sakit hati. Muhammad muak dengan penyakit yang menenggelamkan warga Makkah, seperti perjudian dan perseteruan suku yang tak ada habisnya.
Anak yatim dan orang miskin yang seharusnya dilindungi justru dieksploitasi. Belum lagi, perlakuan terhadap wanita, penganiayaan dan penguburan umum bagi anak perempuan yang baru lahir.