Friday, 14 Rajab 1434 / 24 May 2013
find us on : 
  Login |  Register

Penetapan Awal Ramadhan Bikin Masyarakat Bingung

Wednesday, 18 July 2012, 20:12 WIB
Komentar : 3
lihat Hilal (Ilustrasi)
lihat Hilal (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, PADANG -- Ulama Sumatera Barat, Gusrizal Gazahar berpendapat, seharusnya ormas Islam di Tanah Air bisa menahan diri untuk mengumumkan penetapan awal Ramadhan. Pasalnya, pengumuman itu bisa membuat masyarakat bingung.

"Semua pihak harus lebih mengedepankan persatuan umat serta kebersamaan kendati masing-masing ormas memiliki metode sendiri dalam menetapkan awal Ramadhan," kata dia di Padang, Rabu (18/7).

Ia melihat perbedaan penetapan awal Ramadhan tidak pernah tuntas di Indonesia. Padahal, di negara-negara muslim lain di seluruh dunia juga terjadi. "Lembaga yang berwenang menetapkan awal Ramadhan seperti Badan Hisab dan Rukyat Kementerian Agama tidak dipatuhi, dan tetap ada saja ormas yang berbeda pendapat," kata Gusrizal yang juga menjabat Ketua Bidang Fatwa MUI Sumbar.

Dikatakannya, perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah, namun ada adabnya, di mana hal yang diperdebatkan tidak seharusnya menjadi konsumsi publik. Hal itu untuk mencegah kebingungan masyarakat.

Karenanya, seharusnya perdebatan tentang penetapan awal Ramadhan dari ormas dilakukan dalam ruang tertutup. Sebab, hal itu tidak dapat dicerna secara rinci masyarakat.

Menurutnya, umat Islam dalam memulai ibadah Ramadhan tidak didasarkan kepada hilal atau rukyah. Namun kepada nash (dalil) dimana jika terjadi perbedaan tinggal merujuk kepada nash yang sudah ada.

Salah satu makna ibadah Ramadhan, kata dia, adalah sarana untuk mempersatukan umat. Karena itu, jika ada ormas yang memiliki ijtihad sendiri dalam menetapkan awal Ramadhan, ada dalil yang lebih kuat tentang pentingnya kesatuan umat.

"Sudah saatnya semua pihak menahan diri dan memberikan kewenangan penuh kepada pemerintah dalam menetapkan awal Ramadhan untuk diikuti bersama," katanya.

Redaktur : Karta Raharja Ucu
Sumber : Antara
4.954 reads
Demi Allah, kami tidak akan mengangkat seorang pun yang meminta sebagai pemimpin atas tugas ini dan tidak juga seorang yang berambisi memperolehnya.(HR Muslim )
  Isi Komentar Anda
Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan redaksi republika.co.id. Redaksi berhak mengubah atau menghapus kata-kata yang tidak etis, kasar, berbau fitnah dan pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan. Setiap komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pengirim.

Republika.co.id berhak untuk memberi peringatan dan atau menutup akses bagi pembaca yang melanggar ketentuan ini.
  huzni Thursday, 19 July 2012, 12:59
Ga usah dipolitisir, yg penting metode ilmiah dan bisa dipertanggung jawabkan
  niniksupartini Thursday, 19 July 2012, 11:56
setuju dg komen "mimbar"
  mimbar Thursday, 19 July 2012, 11:34
kenapa mesti bingung,ikuti saja pemerintah yg merupakan representasi mayoritas muslim termasuk ahli ahlinya (MUI,ormasx2 islam,LAPAN dsb).
Silahkan login atau register untuk kirim komentar Anda

  VIDEO TERBARU
Ini Inspirasi Satu Restoran Halal di California
Dengan konsentrasi komunitas Indonesia tertinggi bermukim di daerah pantai Barat Amerika, ditambahnya cukup terbukanya warga Amerika di daerah ini akan makanan...