Kesedihan Generasi Salaf Ketika Ditinggalkan Ramadhan

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Erdy Nasrul

Kamis 11 Apr 2024 02:29 WIB

Umat muslim menunaikan shalat sunah Tahajud saat beriktikaf di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Semarang, Jawa Tengah, Selasa (2/4/2024) dini hari. Memasuki sepuluh malam terakhir bulan suci Ramadhan 1445 Hijriah, umat Islam melakukan iktikaf atau berdiam diri di masjid dengan memperbanyak ibadah seperti membaca Al Quran, shalat Tahajud (malam) dan berdzikir untuk mengharapkan hikmah malam kemuliaan atau Lailatul Qadar. Foto: ANTARA FOTO/Makna Zaezar Umat muslim menunaikan shalat sunah Tahajud saat beriktikaf di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Semarang, Jawa Tengah, Selasa (2/4/2024) dini hari. Memasuki sepuluh malam terakhir bulan suci Ramadhan 1445 Hijriah, umat Islam melakukan iktikaf atau berdiam diri di masjid dengan memperbanyak ibadah seperti membaca Al Quran, shalat Tahajud (malam) dan berdzikir untuk mengharapkan hikmah malam kemuliaan atau Lailatul Qadar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketika bulan Ramadhan berlalu, maka berakhirlah bulan rahmat, pengampunan, dan pembebasan dari api neraka. Berlalu pula setelah jiwa diselimuti semilir udara untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.

Kepergian bulan suci Ramadhan menimbulkan kesedihan dalam jiwa, terlebih para generasi salaf terdahulu. Mereka telah menunjukkan perilaku yang luar biasa terhadap bulan suci ini bahkan sebelum memasukinya.

Baca Juga

Berdoa selama enam bulan agar mereka bisa mencapai bulan Ramadan. Setelah bulan suci Ramadhan berlalu, mereka merasakan kesedihan dan duka atas perpisahan. Mereka berusaha untuk tetap istiqamah dalam ketaatan sepanjang tahun. Karena setiap bulan bagi seorang mukmin adalah waktu ibadah, bahkan seluruh umur adalah waktu ketaatan.

Umar bin Abdul Aziz saat keluar pada hari Idul Fitri, berkata dalam khutbahnya: "Wahai manusia, kalian telah berpuasa untuk Allah selama tiga puluh hari, dan kalian telah berdiri di malam hari selama tiga puluh malam, dan kalian keluar hari ini untuk memohon agar Allah menerima amal kalian."

Dan beberapa dari generasi salaf menunjukkan kesedihan pada hari Idul Fitri. Ketika disampaikan kepada mereka bahwa Idul Fitri adalah hari kegembiraan, mereka berkata: "Kalian benar, tapi aku adalah hamba yang diperintahkan oleh Tuhanku untuk melakukan suatu pekerjaan, dan saya tidak tahu apakah Dia akan menerimanya dari saya atau tidak?"

Suatu ketika, ulama hadits dari generasi tabiin, Wuhaib bin Al-Ward Al-Makki, melihat sekelompok orang tertawa pada hari raya. Lalu dia berkata:

 إن كان هؤلاء تقبل منهم صيامهم فما هذا فعل الشاكرين، وإن كان لم يتقبل منهم صيامهم فما هذا فعل الخائفين.

"Jika puasa mereka diterima, maka ini bukanlah tindakan orang yang bersyukur. Dan jika puasa mereka tidak diterima, maka ini bukanlah tindakan orang yang takut."

Adapun Hasan Al-Bashri juga pernah berkata:

 إن الله جعل شهر رمضان مضمارًا لخلقه يستبقون فيه بطاعته إلى مرضاته، فسبق قوم ففازوا، وتخلف آخرون فخابوا، فالعجب من اللاعب الضاحك في اليوم الذي يفوز فيه المحسنون، ويخسر فيه المبطلون.

"Sesungguhnya Allah menjadikan bulan Ramadhan sebagai arena bagi hamba-Nya untuk berlomba-lomba dalam ketaatan kepada-Nya dan mendapatkan keridhaan-Nya. Ada yang berlomba-lomba dan meraih kemenangan, dan ada yang tertinggal dan merugi. Sungguh heran, bagaimana seseorang bisa tertawa pada hari di mana orang-orang yang berbuat baik meraih kemenangan, sedangkan orang-orang yang berbuat buruk mengalami kekalahan."

 

Lihat halaman berikutnya>>>

 

 

Terpopuler