Soal War Takjil, Umat Kristiani: Untukmu Agamamu Untukku Agamaku, Takjil Enak

Rep: Fuji E Permana/ Red: Ani Nursalikah

Rabu 20 Mar 2024 16:43 WIB

Masyarakat berburu takjil di pasar kaget pedagang takjil di Jalan Pusdai, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/3/2024). Foto: Edi Yusuf/Republika Masyarakat berburu takjil di pasar kaget pedagang takjil di Jalan Pusdai, Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (14/3/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Fenomena war takjil menjadi salah satu yang disorot di bulan puasa Ramadhan 2024. Dalam video yang beredar di media sosial, banyak umat non Muslim berlomba-lomba berburu atau belanja takjil bersama umat Islam yang hendak berbuka puasa.

 

Baca Juga

Maria Fatima Bona seorang umat Kristiani di Jakarta mengatakan senang melihat fenomena war takjil yang disorot dan menjadi isu pada bulan Ramadhan tahun ini. Walaupun sebenarnya sejak beberapa tahun lalu sudah ada war takjil tapi tidak menjadi isu seperti sekarang.

"Mungkin karena masyarakat Indonesia baru saja menyelenggarakan Pemilu yang efeknya kadangkala menimbulkan perpecahan akibat adanya perbedaan pilihan, tapi saat masuk Ramadhan kita kembali merekat (bersatu)," kata Maria saat diwawancarai Republika, Rabu (20/3/2024).

Maria mengatakan, melihat war takjil seperti mematahkan isu miring yang mengatakan bahwa di Indonesia masih ada kaum yang intoleransi. Justru jika melihat war takjil nampak masyarakat Indonesia yang sangat damai dan toleransi hingga tercermin kehangatan hubungan antarumat beragama.

Menurut Maria, saat berburu takjil yang paling semangat adalah kaum non-Muslim, padahal yang puasa adalah teman-teman Muslim. Tapi sebetulnya di saat bersamaan, sebagai umat Kristiani juga sedang berpuasa tapi puasanya tidak setiap hari seperti saudara Muslim.

Umat Kristiani puasa di hari tertentu, yakni Rabu dan Jumat atau memilih berpantang saja. Itu kembali ke pribadi masing-masing umat Kristiani, tapi gereja menyarankan untuk berpuasa.

"Untukmu agamamu, untukku agamaku, takjil enak," ujar Maria sambil tertawa.

Salah seorang teman Maria yang tidak mau disebutkan namanya menambahkan, yang ikut war takjil ini bukan hanya rakyat kecil tapi semua kalangan. Sehingga jadi perbincangan dan disorot.

"Teman-teman saya juga banyak yang ikut war takjil, tapi baru tahun ini merasakan itu sesuatu banget, sebetulnya war takjil dari dulu tapi tidak tersorot dan tidak menjadi isu," ujarnya.

Maria dan temannya sepakat Indonesia dalam pandangan dan pengalaman mereka adalah negara yang rukun, antar umat beragama saling menghormati, dan sangat toleransi. "Padahal hari ini ada pengumuman di KPU, tapi lebih seru bahas war takjil ketimbang hasil pemilu," ujarnya.

Terpopuler