Kebahagiaan Berbuka Puasa Bersama para Wanita Tua di Kamp Pengungsian Lebanon

Rep: mgrol135/ Red: Ani Nursalikah

 Ahad 01 May 2022 16:25 WIB

Selama Ramadhan, sebuah kelompok di kamp Ain al-Hilweh Lebanon Selatan untuk pengungsi Palestina memberikan makanan buka puasa untuk wanita lanjut usia yang tidak memiliki tunjangan. Kebahagiaan Berbuka Puasa Bersama para Wanita Tua di Kamp Pengungsian Lebanon Foto: Al-Araby Al-Jadeed Selama Ramadhan, sebuah kelompok di kamp Ain al-Hilweh Lebanon Selatan untuk pengungsi Palestina memberikan makanan buka puasa untuk wanita lanjut usia yang tidak memiliki tunjangan. Kebahagiaan Berbuka Puasa Bersama para Wanita Tua di Kamp Pengungsian Lebanon

Kebanyakan wanita tua ini tidak memiliki keluarga atau sulit memenuhi kebutuhan.

REPUBLIKA.CO.ID, SIDON -- Selama Ramadhan, sebuah kelompok di kamp Ain al-Hilweh Lebanon Selatan untuk pengungsi Palestina memberikan makanan buka puasa untuk wanita lanjut usia yang tidak memiliki tunjangan.

Dilansir The New Arab, Rabu (27/4/2022), inisiatif ini merupakan upaya dari pusat sosial Beiti, sebuah organisasi amal nirlaba yang menjalankan program mensponsori anak yatim, mendukung pendidikan siswa, menyediakan pakaian Idul Fitri, dan proyek lainnya. Program ini dilakukan saat krisis ekonomi Lebanon membuat banyak orang berjuang menghidupi keluarga mereka.

Baca Juga

Hafidha Ghanem dari desa Palestina Amqa di distrik Acre merupakan salah satu yang tinggal di kamp Ain al-Hilweh. "Saya tidak bisa bekerja karena kesehatan saya dan saya tidak pernah menikah, jadi saya tidak punya siapa-siapa untuk menjaga saya. Dulu saya bekerja sebagai penyulam. Namun, seiring bertambahnya usia, saya tidak dapat terus bekerja, dan saya tidak mendapatkan bantuan dari UNRWA (Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat)," jelasnya.  

Dia mengatakan inisiatif memberi makan orang-orang yang berpuasa ini sangat penting karena harga yang naik membuat banyak dari mereka tidak mampu membeli bahan-bahan untuk berbuka puasa. Selain itu, sebagian dari mereka tidak punya uang dan kerabat di penampungan.

"Inisiatif ini memungkinkan wanita makan bersama seperti keluarga. Ada perbedaan besar antara makan berbuka puasa sendiri dan makan bersama orang lain,” katanya.

Hajja Tammam al-Saudi, merupakan seorang ibu yang bercerai dan tinggal sendirian dari kota Tiberias, Palestina. Karena putrinya yang tinggal jauh darinya, dia mencoba  memenuhi kebutuhan dengan bekerja sebagai pembersih di salah satu pusat penitipan anak kamp. Namun, upahnya tidak cukup untuk memenuhi semua kebutuhannya, termasuk kebutuhan pokok dan makanan. Dia juga membutuhkan pengobatan untuk diabetes dan tekanan darah tingginya.

"Hal terbaik tentang buka puasa ini adalah mereka menyatukan kami dengan wanita lain dan membiarkan kami merasakan kehangatan keluarga yang kami rindukan, lebih dari sebelumnya sejak ekonomi runtuh. Berbuka puasa seperti ini juga meringankan beban orang. Misalnya, saya tidak mampu membeli bahan untuk sepiring salad fattoush apalagi membeli daging dan bahan untuk makanan lainnya," katanya.

Umm Ahmed, yang sama berasal dari Tiberias, mengungkapkan kesulitannya. “Situasinya sangat sulit. Suami saya  menganggur selama lebih dari sebulan. Benar, dia telah menemukan beberapa pekerjaan di sebuah toko roti, namun, uang yang dia hasilkan tidak cukup bagi saya untuk membeli kebutuhan dasar sekalipun,” ucapnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X