Tim Rukyat Gagal Lihat Bulan di Kenjeran

Rep: Antara/ Red: cr01

Senin 29 Aug 2011 19:22 WIB

Seorang petugas melakukan persiapan dengan mencoba teropong yang akan digunakan untuk melihat posisi bulan saat dilakukan rukyatul hilal. Ilustrasi. Foto: Antara/Saiful Bahri Seorang petugas melakukan persiapan dengan mencoba teropong yang akan digunakan untuk melihat posisi bulan saat dilakukan rukyatul hilal. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA – Tim "Rukyatul Hilal" (melihat bulan secara kasat mata) dari Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Kota Surabaya gagal melihat bulan dari lokasi rukyat di Masjid Al-Mabrur, Nambangan-Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur.

Menurut Ketua Tim Lajnah Falaqiyah PC NU Kota Surabaya, H Mas'ud Qusyairi, pihaknya tidak bisa melihat karena masih masih rendahnya ketinggian hilal. "Kami dari Tim Rukyatul Hilal yang memantau di Nambangan, Kenjeran, gagal melihat bulan karena masih rendahnya ketinggian hilal," ujarnya kepada wartawan, Senin (29/8).

Pihaknya juga mengaku telah mendapat laporan dari tim rukyat di beberapa titik di Jawa Timur, bahwa tidak ada satu pun lokasi yang berhasil melihat bulan. "Saya dapat informasi kalau tidak ada yang berhasil melihat bulan, di antaranya di Bangkalan, Lamongan, maupun Banyuwangi. Semuanya gagal," kata Mas'ud.

Dengan demikian, lanjut dia, jika semua tim rukyat se-Indonesia tidak ada yang berhasil melihat bulan, maka puasa akan digenapkan menjadi 30 hari dan merayakan Idul Fitri 1432 Hijriah pada Rabu, 31 Agustus 2011.

Hanya saja, pihaknya mengaku masih menunggu keputusan Sidang Isbat yang digelar Kementerian Agama di Jakarta. "Keputusannya tergantung Menteri Agama pada Sidang Isbat. Tapi kalau se-Indonesia tidak ada satu pun yang melihat, maka puasa digenapkan 30 hari," katanya.

Ulama yang juga Rais Syuriah NU Kecamatan Tambaksari tersebut juga mengatakan, kemungkinan besar PB NU mengeluarkan anjuran kepada kaum Nahdhiyin di Indonesia bahwa Idul Fitri jatuh pada 31 Agustus 2011. "Itu artinya, kaum Nahdhiyin malam hari ini masih akan melakukan shalat Tarawih yang terakhir kalinya di bulan Ramadhan ini. Kemudian besok malam baru malam takbiran," lanjut Mas'ud.

Sementara itu, pihaknya juga mengimbau kepada semua masyarakat di Indonesia agar tetap rukun dan tidak menjadikan perbedaan sebagai sesuatu yang menyebabkan pertengkaran. Dikatakannya, di Indonesia sudah beberapa kali terjadi perbedaan dalam menentukan Idul Fitri, namun suasana tetap kondusif dan tidak ada permasalahan antar umat Islam.

"Itulah yang kita inginkan bersama. Silakan bagi siapa pun yang mempercayai Selasa (30/8) sudah waktunya lebaran untuk shalat Idul Fitri. Perbedaan itu biasa dan tidak sepatutnya menjadi sesuatu yang diperdebatkan," pungkasnya.

Terpopuler