Memaknai Kesabaran Sebagai Salah Satu Esensi Puasa Ramadhan

Rep: Fuji E Permana/ Red: Nashih Nashrullah

 Senin 27 Apr 2020 23:17 WIB

Ramadhan mengajarkan umat Islam untuk senantiasa bersabar. Ilustrasi Ramadhan Foto: Pixabay Ramadhan mengajarkan umat Islam untuk senantiasa bersabar. Ilustrasi Ramadhan

Ramadhan mengajarkan umat Islam untuk senantiasa bersabar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ramadhan dijuluki syahrul Quran atau bulan Alquran dan bulan kesabaran. Melalui Ramadhan, Allah mendidik hamba-hamba-Nya selalu ingat kepada-Nya agar dapat selalu bersabar.  

Pakar ilmu tafsir dan hukum Islam, Prof KH Ahsin Sakho Muhammad, menyampaikan kesabaran harus menjadi hiasan setiap Muslim, dengan kesabaran diharapkan tercipta karakter sabar pada diri seseorang. Karena dengan kesabaran banyak persoalan yang akan terselesaikan dengan baik.  

Baca Juga

Imam Syafi'i mengomentari surat Al Ashr, menurutnya, seandainya Allah SWT memberi pencerahan kepada manusia hanya dengan menurunkan surat Al Ashr, ini saja sudah cukup. "Karena kesabaran yang menjadi tulang punggung kesuksesan manusia baik di dunia maupun di akhirat nanti," kata Prof Ahsin kepada Republika.co.id, pekan lalu. 

Mantan rektor Institut Ilmu Alquran (IIQ) Jakarta ini menyampaikan bahwa arti kesabaran sangat luas sekali. Pekerjaan sehari-hari yang biasa dilakukan memerlukan kesabaran dalam pengerjaannya. Contohnya orang yang menanak nasi, punya istri cerewet, dan bekerja saja harus sabar.  

Seseorang mencuri dan korupsi karena tidak sabar menunggu rezeki yang halal. Orang yang melakukan zina juga akibat tidak sabar menunggu jodoh yang dinikahi sesuai syariat Islam.  

"Sesuatu yang berkaitan dengan perilaku manusia yang menyimpang itu adalah karena tidak sabar, jadi sabar merupakan tulang punggung dari kesuksesan manusia dalam menghadapi persoalan-persoalan di dunia ini," ujarnya.  

Kiai Ahsin mencontohkan, orang-orang yang mampu membuat pesawat terbang dan kendaraan bermotor itu adalah buah dari kesabaran dalam menuntut ilmu. Jadi menuntut ilmu pengetahuan apapun harus sabar karena sangat penting bagi kehidupan manusia.  

Dalam pandangan ulama sabar berkaitan dengan agama. Maka sabar dapat diartikan sabar melaksanakan kewajiban-kewajiban dari Allah. Serta sabar agar tidak melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah. Termasuk sabar menghadapi musibah.  

"Jadi kesabaran adalah kunci sukses kehidupan dunia sampai di akhirat nanti, bagaimana Allah menciptakan media atau sarana untuk menciptakan kesabaran? Yaitu dengan berpuasa, di sini puasa sampai satu bulan jadi setiap orang dilatih setiap hari untuk bersabar tidak makan dan minum," jelasnya.

Kiai Ahsin mengatakan, permasalahannya apakah ada orang yang setelah Ramadhan terbentuk kesabarannya. Ini sangat tergantung pada kualitas puasanya, kalau kualitas puasanya bagus maka bisa mendapatkan kesabaran. Tapi kalau kualitas puasanya kurang, setelah Ramadhan tidak mendapatkan sifat sabar itu dan kembali melakukan hal-hal yang dilarang agama. 

"Karena dengan sabar perintah Allah bisa dijalankan dengan baik, larangan Allah bisa dijaga dengan baik, nanti dengan kesabaran itu bisa menjalani kehidupan dengan baik, pahala orang yang bersabar juga besar," jelasnya.

Dia menyampaikan, bila seseorang sudah mendapatkan karakter sabar, maka akan mendapatkan pahala yang penuh tanpa terhitung. Karena dengan kesabaran, maka keimanan seseorang akan semakin tinggi.  

Dia menegaskan, puasa menciptakan kesabaran, filosofi inilah yang harus diresapi, direnungkan dan diamalkan. Sehingga kesabaran sebagai hikmah dari puasa biasa didapatkan. Kemudian menjadi semakin arif dan bijaksana serta semakin tidak tergesa-gesa.

"Bergaul dengan masyarakat semakin bagus, jadi akhlaknya semakin bagus, ibadahnya tambah bagus dan tambah istiqamah, itu buat keuntungan manusia sendiri bukan untuk keuntungan Allah," kata dia.  

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X