Tradisi Ramadhan Masyarakat Najdi di Saudi Dulu dan Kini

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Agung Sasongko

Kamis 23 May 2019 21:21 WIB

Ilustrasi Ramadhan Foto:

Di masa kini, Kementerian Urusan Islam, Dakwah dan Bimbingan Saudi yang memainkan peran penting dalam mempersiapkan masjid di seluruh negari dan luar negeri. Selama Ramadhan, pemerintah Saudi meminta para khatib (pengkhutbah) untuk menyampaikan pidato dan ceramah agama. Pemerintah Saudi juga akan membagikan salinan Alquran.

Agenda utama lainnya ialah memperbaiki dan melakukan pemulihan di masjid-masjid. Menurut situs web kementerian tersebut, tahun ini direktur jenderal Sheikh Sami bin Sulaiman Al-Mashiqih membagikan karpet baru seluas 50 ribu meter persegi ke masjid-masjid di kota Riyadh. 

Di masa lalu, cuaca panas menjadi masalah bagi masyarakat Diriyah yang hidup tanpa listrik dan pendingin udara. Menurut DGDA, masyarakat DIriyah menggunakan labu (botol) daribahan kulit domba atau kambing untuk menyimpan air dan membuatnya tetap dingin. 

Selama bulan Ramadhan, orang-orang Najdi biasa menyumbangkan kulit kurban mereka ke masjid untuk dijadikan labu (botol) bagi jamaah sebagai tradisi Ramadhan. Mereka juga menyumbangkan pohon-pohon palem dan meletakkan kurma di pintu masjid. Praktik ini dikenal dengan sebutan "asha Ramadhan."

Sekarang, masyarakat menyumbang botol air sebagai gantinya. Selain itu, masyarakat juga kerap menyumbang peralatan seperti lemari es, berbagai makanan, dan kursi bagi orang berkebutuhan khusus untuk digunakan di dalam masjid. 

Soal makanan di bulan Ramadhan, DGDA mengatakan orang-orang Najdi di masa lalu begitu sederhana dalam hal hidangan Ramadhan. Mereka kerap menyajikan makanan tradisional dan sederhana. Dikatakan DGDA, bahwa masyarakat setempat biasa meminum jus kurma yang manis yang disebut "Merais" saat berbuka puasa dan sahur. Minuman ini sangat populer di kalangan orang tua. Merais diyakini dapat memberi kekuatan dan energi saat mereka berpuasa di siang hari. 

 

 

Terpopuler