Ibnu Hajar berpendapat, setan-setan tidak mudah dalam mencelakakan Muslim, sebagaimana mereka mampu melakukannya di luar Ramadhan. Sebab, Muslim tersebut sibuk dengan aktivitas puasanya, sehingga terkendalilah syahwatnya.
Sementara, pendapat kedua mengatakan setan memang diikat sebagaimana adanya, termasuk fisiknya. Pasalnya, banyak malaikat yang turun pada Ramadhan dan menjaga manusia dari gangguan setan.
Salah seorang ulama Malikiyah, Imam Al Baji dalam Syarah Muwatha berpendapat, makna setan dibelenggu adalah belenggu secara hakiki. Sehingga, setan terhalangi untuk melakukan beberapa perbuatan yang tidak mampu dia lakukan kecuali dalam kondisi bebas.
Imam Baji juga menafsirkan, belenggunya setan adalah diikatnya ia pada leher dan tangan saja. Sementara, ia masih bisa berbicara dan memberikan bisikan jahat atau gangguan lainnya.
Pendapat ketiga mengatakan, sejatinya setan tidak dibelenggu secara hakiki. Sifatnya hanya kiasan. Mengingat keberkahan Ramadhan dan banyaknya ampunan Allah untuk para hamba-Nya selama Ramadhan. Sehingga, setan seperti terbelenggu.
Menurut Imam Baji ada pemaknaan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, penuh pahala amal, banyak ampunan dosa. Artinya, efek setan yang menggoda menjadi tidak ada. Usahanya untuk menyesatkan manusia juga sia-sia.
Ibnu Utsaimin ketika ditanya masalah ini memilih lebih berhati-hati dalam menafsirkannya. Ia menyebut jika perkara ini adalah perkara yang gaib. Dalam perkara gaib yang disampaikan Nabi SAW maka sikap seorang Muslim adalah menerima dan membenarkannya.
Hendaknya seseorang tidak terjebak dalam perbincangan untuk mencari tahu makna di balik ucapan yang gaib tersebut. Menurut Utsaimin, sikap seperti ini lebih selamat bagi agamanya.
Ia merujuk pada pendapat Imam Ahmad saat ditanya anaknya mengapa masih ada orang yang kerasukan jin saat Ramadhan padahal setan saat itu dibelenggu. Imam Ahmad berkata, "Begitulah hadis ini dan jangan membicarakan (lebih dalam masalah) ini." Allahua'lam. n
Disarikan dari Dialog Jumat Republika