Hindari Spekulan, Intensif Cek Harga Selama Ramadhan

Rep: Sefti Oktarianisa/ Red: Dewi Mardiani

Senin 23 Jul 2012 13:41 WIB

 Jelang Ramadhan, warga memenuhi pasar tradisional di pusat kota. Ilustrasi.  (Karim Kadim/AP) Jelang Ramadhan, warga memenuhi pasar tradisional di pusat kota. Ilustrasi. (Karim Kadim/AP)

REPUBLIKA.CO.ID, ABU DHABI - Harga yang melonjak akibat permintaan yang tinggi biasa terjadi di bulan Ramadhan. Karenanya pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) melakukan pengecekan secara intensif di sejumlah pasar di Abu Dhabi guna mengetahui harga buah dan sayur mayur di negara tersebut.

Menurut Direktur Perlindungan Konsumen Kementrian Ekonomi, Hashim Saeed Al Nuaimi, hal ini dilakukan untuk menjaga harga bahan makanan agar tetap stabil. Tingginya permintaan bisa saja membuat spekulan memainkan pasokan yang berujung pada kenaikan harga.

"Kita ingin membuka komunikasi dengan para pedagang," katanya sebagai mana dilansir Khalej Times. Ia menegaskan para pedagang dilarang meningkatkan harga selama bulan suci ini berlangsung.

Pemberian harga yang tidak jelas oleh penyalur, bisa menimbukan distorsi harga yang besar. "Bisa saja pada warga lokal, para pedagang mematok harga tinggi karena mereka nilai pembeli sudah menyiapkan banyak uang untuk bahan pokok. Tapi perlakuan kepada masyarakat pendatang bisa saja berbeda, di mana penjual justru menurunkan harga," katanya.

Sementara itu di ibu kota Uni Emirat Arab, Dubai, beberapa pasar swalayan terbukti menaikkan harga makanan hingga 50 persen. Penyalur ritel yang enggan disebutkan namanya telah melaporkan kenaikan ini pada Kementrian Ekonomi negara itu. Kenaikan harga terjadi pada beberapa komoditas, seperti daging beku, gula, buah, dan sayuran.

Terpopuler