Introspeksi Diri Lewat Shalat dan Puasa, Inilah Tuntunannya

Rep: Joko Sadewo/ Red: Endah Hapsari

Selasa 24 Jul 2012 15:11 WIB

Puasa Ramadhan (ilustrasi) Puasa Ramadhan (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, Janji Allah bahwa puasa Ramadhan akan menghapus dosa-dosa yang sudah kita lakukan, tidak mudah diraih begitu saja. Untuk mendapatkannya, ada dua hal yang harus dilakukan, yaitu puasa harus dilakukan dengan penuh keimanan serta introspeksi diri. ''Ramadhan hanya 30 hari. Mari kita jadikan Ramadhan untuk berintrospeksi diri,'' ungkap Ustadz Zaki.

Banyak hal yang harus diintrospeksi. Namun, yang terpenting adalah mengintrospeksi shalat. Rasullullah bersabda ketika nanti manusia kembali ke Allah, maka hal yang paling utama ditanya adalah shalat. Kalau shalatnya benar, maka semua ibadah yang lain akan menjadi benar. Begitu pula sebaliknya.

Menurut Ustadz Zaki, seringkali orang menjalankan shalat sebatas menggugurkan kewajiban. Padahal, shalat juga bisa dijadikan sarana untuk melakukan introspeksi diri. Ustadz Zaki menceritakan, banyak orang Jepang non muslim yang mencari ketenangan hidup. Mereka pergi ke sungai, gunung, goa-goa, hanya untuk bermeditasi mencari ketenagan hati.

''Kita diberi lima waktu dalam sehari oleh Allah untuk introspeksi diri. Harusnya shalat menjadi kebutuhan, bukan sekedar menggugurkan kewajiban,'' katanya menegaskan. Dalam bulan Ramadhan ini, imbuh dia, seharusnya dijadikan sarana untuk memperbaiki shalat.

Dikatakan Ustadz Zaki, gerakan pertama dalam shalat adalah takbiratulikhram. Kata ini, berasal dari dua kata yaitu takbir dan ikhram. Dalam bahasa Arab, takbir berarti mengagungkan, meng-Esa-kan. ''Dalam konteks ini, yang kita Esa-kan adalah Allah. Sehingga kalimat yang diucapkan adalah Allahu Akbar,'' katanya menjelaskan.

Sedang kata ikhram, sambung dia, diambil dari kata haram. ''Kalau kita pergi ke Saudi, kita kenal Masjidil Haram. Dinamakan demikian, karena orang yang sudah masuk ke sana dilarang berbuat maksiat apapun,'' kata Ustadz Zaki. Dalam shalat pun, kata Ustadz Zaki, ikhram berarti ketika melakukan shalat diharamkan hal-hal yang bersifat duniawi. Dengan demikian ketika sudah melakukan takbiratulikhram, maka haram memikirkan hal-hal yang sifatnya duniawi.

Selanjutnya, kata Ustadz Zaki, shalat ditutup dengan mengucap assalamu'alaikum, sambil menengok ke kanan lalu ke kiri. Ini berarti, orang yang sudah melakukan shalat harus bisa menebar perdamaian. Baik ke sebelah kanan maupun ke sebelah kiri. Namun, tegas dia, ketika orang yang sudah shalat tapi menebar keresahan bahkan kerusuhan, maka perlu dipertanyakan shalatnya. ''Islam memberikan kedamaian, baik untuk umat Islam sendiri maupun antar umat beragama,'' kata Ustadz Zaki. Karena itu, sambung dia, Ramadhan harus bisa dijadikan sebagai madrasah hati.

Terpopuler