Kelaparan Semakin Parah di Palestina pada Awal Ramadhan

Rep: Mgrol150/ Red: Muhammad Hafil

Rabu 13 Mar 2024 13:39 WIB

Pengungsi Palestina berkumpul untuk mengumpulkan makanan yang disumbangkan oleh kelompok pemuda amal sebelum sarapan, pada hari kedua bulan suci Ramadhan di Rafah, di selatan Jalur Gaza, (12/3/ 2024). Foto: EPA-EFE/HAITHAM IMAD Pengungsi Palestina berkumpul untuk mengumpulkan makanan yang disumbangkan oleh kelompok pemuda amal sebelum sarapan, pada hari kedua bulan suci Ramadhan di Rafah, di selatan Jalur Gaza, (12/3/ 2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Perang yang terjadi di Palestina menimbulkan dampak yang cukup parah bagi warga Palestina. Kelaparan yang memburuk di Gaza dan perang antara Israel dan Hamas belum juga berakhir. Hal tersebut terjadi seiring mulainya puasa pada bulan suci Ramadhan.

Ibadah dilakukan di Tengah puing – puing bangunan yang hancur. Lampu – lampu dan dekorasi – dekorasi digantung pada setiap tenda – tenda yang penuh sesak. Sekolah PBB berubah menjadi tempat penampungan dan tempat menari untuk anak – anak sebagai perayaan sementara.

Baca Juga

Tidak banyak yang bisa dirayakan setelah perang selama lima bulan yang telah menewaskan lebih dari 30.000 warga Palestina dan menyebabkan sebagian besar wilayah Gaza hancur. Keluarga biasanya berbuka puasa setiap hari dari matahari terbit hingga terbenam dengan pesta hari raya, namun meskipun makanan tersedia, hanya makanan kaleng yang tersedia dan harganya terlalu mahal bagi banyak orang.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak Israel dan Hamas untuk menghormati semangat Ramadhan dengan “membungkam senjata” dan membebaskan semua sandera.

Perang telah menyebabkan sekitar 80% penduduk Gaza yang berjumlah 2,3 juta orang meninggalkan rumah mereka dan menyebabkan ratusan ribu orang berada di ambang kelaparan. Pejabat kesehatan mengatakan sedikitnya 25 orang, sebagian besar anak-anak , meninggal karena kekurangan gizi dan dehidrasi di Gaza utara.

Amerika Serikat dan negara-negara lain telah mulai mengirimkan bantuan melalui udara, namun kelompok kemanusiaan mengatakan upaya tersebut mahal dan tidak cukup. Militer AS juga telah mulai mengangkut peralatan untuk membangun jembatan laut untuk menyalurkan bantuan, namun kemungkinan akan memakan waktu beberapa minggu sebelum jembatan tersebut dapat beroperasi. 

Terpopuler