Ramadhan Rakyat Palestina Dibayangi Bencana Kelaparan dan Kehancuran Gaza

Red: Andri Saubani

Selasa 12 Mar 2024 05:10 WIB

Seorang anak Palestina memegang lentera di tenda pengungsian mereka saat menyambut datangnya Ramadhan di Rafah, di selatan Jalur Gaza, Sabtu (9/3/2024). Pengungsi Palestina di Rafah menyambut sukacita datangnya bulan Ramadhan meski tinggal di tenda-tenda pengungsian. Foto:

1

Presiden Komite Palang Merah Internasional (ICRC) Presiden Mirjana Spoljaric membahas situasi kemanusiaan dengan kepala biro politik Hamas, Ismael Haniyeh dalam kunjungan ke Qatar pada Ahad kemarin. Ia juga bertemu pejabat-pejabat Qatar sebagian bagian dari upaya ICRC untuk menggelar pembicaraan langsung dengan semua pihak. 

Di Gaza yang kini sudah menjadi puing-puing sebagian besar 2,3 juta populasi tinggal di tenda-tenda plastik di Kota Rafah. Mereka kekurangan pangan dan suasana sangat suram. 

"Kami tidak mempersiapkan apa-apa untuk menyambut Ramadhan karena kami sudah berpuasa selama lima bulan," kata ibu lima anak Maha, yang biasanya setiap Ramadhan ia menghias rumahnya dengan dekorasi dan memenuhi kulkas untuk berbuka puasa. 

"Tidak ada makanan, kami hanya memiliki beberapa kaleng makanan dan beras, sebagian besar makanan di jual dengan harga yang tak terbayangkan," katanya melalui aplikasi kirim-pesan dari Rafah di mana ia mengungsi bersama keluarganya. 

Di media sosial X Kepala badan bantuan pengungsi PBB untuk Palestina (UNRWA) Philippe Lazzarini mengatakan bulan Ramadhan seharusnya "membawa gencatan senjata bagi mereka yang paling menderita." 

"(Namun bagi warga Gaza) bulan Ramadhan justru datang ketika kelaparan ekstrem menyebar, pengungsian terus berlanjut & ketakutan serta kecemasan muncul di tengah-tengah ancaman operasi militer di #Rafah," cicitnya. 

Di kota Al-Mawasi, Gaza selatan, pejabat kesehatan Palestina mengatakan 13 orang tewas dalam serangan militer Israel di area tenda tempat ribuan pengungsi berlindung.

Belum ada komentar langsung dari Israel. 

Di Tepi Barat yang mengalami lonjakan kekerasan dua tahun lebih dan semakin buruk sejak perang Israel di Gaza, taruhannya juga tinggi. Jenin, Tulkarm, Nablus, dan kota-kota yang bergejolak lainnya bersiap untuk bentrokan lebih lanjut.

Di Israel kekhawatiran akan serangan penabrakan mobil atau penikaman warga Palestina juga telah meningkatkan persiapan keamanan.

Bagi banyak warga Gaza, hanya ada sedikit pilihan selain berharap akan adanya perdamaian.

"Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah meskipun tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tetapi kami tetap tabah dan sabar, dan kami akan menyambut bulan Ramadhan seperti biasa, dengan dekorasi, nyanyian, doa, puasa," kata Nehad El-Jed yang mengungsi bersama keluarganya di Gaza.

Terpopuler