Tiga Bekal Utama Agar Ramadhan tidak Sia-Sia

Rep: mgrol151/ Red: Erdy Nasrul

Kamis 29 Feb 2024 18:29 WIB

Ilustrasi ceramah menyambut Ramadhan. Foto: Edi Yusuf/Republika Ilustrasi ceramah menyambut Ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dua pekan lagi seluruh umat Islam akan menghadapi bulan yang sangat dinantikan, Ramadhan. Untuk sampai ke sana, setiap Muslim perlu mempersiapkan diri dengan hal-hal berikut ini.

 

Baca Juga

 

Pertama, melakukan tobat dan memperbanyak mengingat Allah 

Tobat adalah konsep penting dalam agama Islam yang mengacu pada proses minta maaf, mengakui dosa, dan berkomitmen untuk meninggalkan dosa. 

Langkah ini merupakan langkah yang tepat bagi umat Muslim, karena bulan Ramadhan adalah waktu yang istimewa di mana kebaikan diperbanyak, dosa diampuni, dan pintu rahmat Allah SWT terbuka lebar. 

Tobat juga menjadi salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan merenungkan dosa-dosa dan mengakui kesalahan di hadapan-Nya. Berdasarkan Surat al-Baqarah ayat 222, yang berbunyi:

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ….

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat. 

Kedua, mempertajam ilmu untuk bekal di bulan suci Ramadhan

Sepanjang bulan puasa, setiap Muslim harus melakukan banyak ibadah agar semakin dicintai Allah. 

Tetapi, jika ibadah itu tidak dilaksanakan menggunakan ilmu maka sia-sia dan tidak akan hasilnya. Umar bin Abdul Aziz berkata:

مَنْ عَبَدَ اللهَ بِغَيْرِ عِلْمٍ كَانَ مَا يُفْسِدُ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka dia akan membuat banyak kerusakan daripada mendapatkan kebaikan.

Sedangkan ketika bulan Ramadhan tiba, banyak kesempatan Muslim untuk mendapatkan keberkahan. Dengan cara berdzikir, tadarus, bersedekah, sholat sunnah selalu dijalankan, hingga memperbanyak sholawat. 

Namun, jika ibadah semua itu tidak dilaksanakan sesuai dengan aturan dan ketetapan yang ada. Maka ibadah itu sia-sia, disanalah diperlukan ilmu. 

Bagaimana saat melaksanakan puasa melakukan maksiat? Apakah hal itu bisa mengurangi pahala atau tidak?

Pertanyaan itu akan terjawab jika seseorang mempunyai ilmu. Ilmu bisa didapatkan dari berbagai sumber. Seringnya membaca, mendengarkan kajian, mempunyai teman yang sholeh atau sholehah. Maka dari sana akan tertanam ilmu yang mulia. 

Namun, sering kali seseorang lupa untuk berbagi ilmu terhadap sesama umat beragama. Tidak akan menjadi pahala jika seseorang merasa sombong atas pahalanya sehingga tidak membagikannya kepada sesama umat-Nya.

 

Lihat halaman berikutnya >>>