Puasa Mencerdaskan Otak Lho (1)

Rep: Hannan Putra/ Red: Hafidz Muftisany

 Kamis 26 Jul 2012 23:06 WIB

Otak (ilustrasi) Otak (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, REPUBLIKA.CO.ID, Imam as-Suyuthi ketika berumur 21 tahun sudah mampu menulis separuh kitab tafsir Al-Jalalain yang belum dirampungkan oleh Imam al-Mahalli, gurunya karena kedahuluan wafat. Itu semua dilakukannya hanya dalam tempo empat puluh hari, yaitu dari awai bulan Ramadhan hingga tanggai 10 bulan Syawwal tahun 870 H.

Kehebatan tingkat kecerdasan ini terjadi karena ia menulis sambil menjalani ibadah puasa. Selain Imam as-Suyuthi ternyata banyak ulama, tokoh, intelektual, dan bintang pelajar yang justru menuai keberhasilan karena terbiasa menjalani ibadah puasa. Adakah keterkaitan ibadah puasa dengan peningkatan kecerdasan otak?

Manusia hidup bergantung dari udara, makan-makanan, tanah, dan jagad raya sekitarnya. Fokus tersebut memberikan pengaruh kuat bagi hidup dan kehidupannya menuju objek materiil.

Ini bisa diraup dengan ilmu pengetahuan, sedang ilmu ini tidak bisa dimiliki manusia tanpa melalui kecerdasan otak dan kecakapan nalar pikiran yang sering dikenal dengan IQ (Intelligence Quotient).

Otak manusia yang beratnya sekitar 1,3 kilo gram tersusun atas jaringan yang rumit. Otak bertindak atas dasar informasi yang diterima terus-menerus dan tiada putus-putusnya, serta dibantu oleh saraf dan hormon.

Otak juga berfungsi memberi tahu kapan saatnya tubuh membutuhkan makanan, tidur, bangun, dan sebagainya. Begitu banyak kelebihan otak manusia dibanding dengan komputer. Otak yang berwujud seperti agar-agar, memiliki kemampuan berpikir, berimajinasi, dan berkreasi, yang tidak bisa diiakukan oleh komputer.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Play Podcast X