Hal Paling Menantang Selama Ramadhan tidak Minum Kopi

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Agung Sasongko

 Kamis 07 Apr 2022 04:20 WIB

Kopi (ilustrasi) Foto: Pixabay Kopi (ilustrasi)

Hal yang paling menantang tentang Ramadhan adalah tidak minum kopi

REPUBLIKA.CO.ID, YELLOWKNIFE -- Seorang Muslim di Yellowknife Kanada menceritakan bagaimana dia melalui Ramadhan, bulan suci bagi umat Islam. Adalah Yusur Al-Bahrani, Muslim Kanada yang merindukan saat-saat berpuasa dari terbit hingga terbenamnya matahari sepanjang siang hari di Yellowknife.

"Hal yang paling menantang tentang Ramadhan adalah tidak minum kopi," katanya sambil tertawa, seperti dilansir CBC, Rabu (6/4/2022).

Baca Juga

Al-Bahrani mengatakan, selama Ramadhan dia minum dua gelas espresso sebelum Subuh, tetapi kemudian harus menjalani sisa hari itu tanpa kopi. Namun dia merasakan bagaimana Ramadhan merupakan bulan transformasi spiritual bagi dirinya. "Karena ada begitu banyak elemen Ramadhan," tuturnya.

Al-Bahrani telah tinggal di Yellowknife selama empat tahun dan mengatakan setiap Ramadhan sebelumnya dia akan mengikuti jadwal waktu selatan, tetapi tahun ini akan mencoba waktu setempat. Dia menuturkan, Ramadhannya tidak terlalu menyenangkan karena keluarganya tidak tinggal di kota dan dia lebih sering merayakannya sendirian.

Meski demikian, ada seorang teman yang juga Muslim memberikan samosa yang cukup untuk dia berbuka puasa sepanjang bulan. "Biasanya ada banyak makanan pembuka, jadi orang-orang berbuka puasa dengan samosa atau makanan pembuka apa pun dan kemudian ada makanan yang sebenarnya. Jadi saya sangat menghargai itu karena saya tidak membuat makanan pembuka apa pun," kata Al-Bahrani.

Ketua Islamic Center Yellowknife, Nazim Awan mengundang siapa saja yang bukan Muslim dan tertarik untuk belajar dan merayakan hari raya bersama. Ia menyampaikan, banyak keluarga yang dengan senang hati mengundang mereka untuk berbuka puasa. "Sangat penting untuk mengajak orang lain berbuka puasa dengan Anda dan memastikan bahwa orang-orang yang ada di komunitas Anda yang Anda kenal, orang-orang tertentu membutuhkan bantuan, bantulah mereka," kata Awan.

Awan melanjutkan, setelah dua tahun pandemi, Ramadhan kali ini terasa istimewa karena bisa berkumpul dengan masyarakat. "Ramadhan itu ibadah individu, tapi dirayakan masyarakat," katanya. Ramadhan tahun ini, menjadi yang terakhir di mana komunitas Muslim di Yellowknife tidak memiliki pusat untuk sholat dan berkumpul.

CEO Masyarakat Islam Amerika Utara-Kanada, Fouzan Khan menuturkan, pusat Islam yang akan datang dapat memiliki struktur yang berfungsi dan mulai dibangun pada Agustus atau September. Hal ini dimungkinkan setelah proyek tersebut menerima kontribusi senilai 687 ribu dolar AS dari pemerintah federal.

"Kami memang memiliki budaya dan tradisi yang kuat untuk sholat pekanan kami dan Ramadhan sebagai perayaan komunitas selama sebulan dan menemukan cara untuk memperkuat ikatan kami dengan komunitas," katanya.

Gedung tersebut akan memiliki ruang untuk sholat dan ruang tambahan yang dapat digunakan untuk rangkaian kuliah, program penjangkauan, dapur umum, bank makanan, layanan konseling, serta ruang aman remaja. "Ini pada dasarnya adalah ruang serbaguna yang kami harapkan untuk dibangun," kata Khan.

Bangunan itu akan berada di tempat yang sama dengan Islamic Center lama di dekat Racquet Club, yang dirobohkan pada tahun 2019. Hal unik dalam merayakan Ramadhan di Yellowknife adalah panjangnya hari.

Misalnya, pada Selasa lalu, matahari terbit pada pukul 06.45 dan matahari terbenam pada pukul 20.36. Dan pada 1 Mei atau akhir Ramadhan, matahari terbit pada pukul 5.21 pagi dan matahari terbenam pada pukul 21.50. Akibatnya, sebagian besar komunitas Muslim di Yellowknife mengikuti jadwal Edmonton untuk berpuasa, tetapi itu adalah pilihan siapa pun untuk melakukannya.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...

Berita Lainnya

Play Podcast X