Penggembala yang Menolak Diajak Batal Puasa Panglima Perang

Rep: Ali Yusuf/ Red: Muhammad Hafil

 Jumat 30 Apr 2021 18:56 WIB

Penggembala yang Menolak Diajak Batal Puasa Panglima Perang. Foto: Ilustrasi Ramadhan Foto: Pixabay Penggembala yang Menolak Diajak Batal Puasa Panglima Perang. Foto: Ilustrasi Ramadhan

Panglima perang mengajak seorang penggembala untuk batal puasa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dikisahkan suatu hari al-Hajjaj bin Yusuf merupakan seorang panglima perang Dinasti Umayyah yang zalim. Begitu berandalnya Hajjaj ketika hidupnya ia pernah melempari Ka'bah dengan meriam-meriam batu.

Dikisahkan Candra Nila Murti Dewojati dalam bukunya Strategi Jitu Meraih Lailatul Qadar bahwa pada suatu hari yang sangat terik, Hajjaj meminta pengawalnya untuk mengajak seorang tamu santap siang bersamanya.

Baca Juga

Diajaklah seorang penggembala yang tinggal di pegunungan menjadi tamunya, dan terjadi dialog seperti berikut. "Wahai penggembala, marilah kita makan bersama," ujar al-Hajjaj mengajak.

"Maaf saya telah diundang oleh yang lebih mulia daripada Tuan dan tengah kupenuhi undangan itu," kata si penggembala

"Siapakah yang tengah mengundang?" tanya Hajjaj.

"Tuhan seru sekalian alam, hari ini saya tengah berpuasa, dan saya juga berpuasa pada hari-hari yang terlama terik sekalipun."

"Ayolah tak mengapa kita makan bersama hari ini dan besok kamu bisa berpuasa lagi," ajaknya.

"Semisal saya berbuka hari ini, apakah Tuhan dapat menjamin usia saya hingga esok harinya hingga saya bisa berpuasa?" Tanya penggembala itu sambil tersenyum.

 "Tentu saja tidak," kata Hajjaj.

"Jika demikian, mengapa tuan meminta sesuatu pada hari ini dan menjanjikan akan memberikan hari esok, sedangkan hari esok aja bukan di tangan Tuan?"

"Sudahlah tidak usah diperpanjang lagi, ayolah makan saja makanan yang lezat ini, karena makanan ini memang sungguh lezat," bujuk Hajjaj semakin menjadi.

Penggembala itu memandang ke arah pemimpin pasukan perang yang bengis itu, lalu berdiri dan beranjak meninggalkannya sambil berkata.

"Demi Tuhan yang melezatkannya bukan juru masak Tuan, bukan pula jenis makanannya, tetapi kesehatan jasmani dan rohani seseorang," katanya.

Dari kisah ini, kata Candra, bisa kita renungi bahwa hasil yang diperoleh seseorang dalam berpuasa adalah kemampuan untuk mengendalikan diri. Pengendalian diri seseorang memang harus selalu dipelajari dan dijalani dengan niat tinggi untuk bisa terbebas dari segala macam godaan dan rayuan setan

"Serta selalu berusaha menghadirkan Allah SWT dalam hati dan setiap langkahnya," katanya.

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...

Berita Lainnya

Play Podcast X