Jihad Melawan Hawa Nafsu untuk Meraih Lailatul Qadar

Rep: Ali Yusuf/ Red: Muhammad Hafil

 Jumat 30 Apr 2021 18:41 WIB

Jihad Melawan Hawa Nafsu untuk Meraih Lailatul Qadar. Foto: Ilustrasi Malam Lailatul Qadar Foto: Foto : MgRol_93 Jihad Melawan Hawa Nafsu untuk Meraih Lailatul Qadar. Foto: Ilustrasi Malam Lailatul Qadar

Orang yang meraih lailatul qadar adalah pemenang puasa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Puasa bisa menjadi jihad akbar bagi yang melaksanakannya. Saat Ramadhan, setiap umat muslim dituntut untuk berperang menaklukkan nafsunya.

"Perlu diketahui juga bahwa perang ini bukan untuk mematikan potensi lawan apa lagi memusnahkan," kata Candra Nila Murti Dewojati dalam bukunya "Strategi Jitu Meraih Lailatul Qadar".

Baca Juga

Candra menuliskan, bahwa tujuan puasa yang sebenarnya adalah mengendalikan diri karena betapa buruknya suatu hal pasti ada segi-segi positif dalam dirinya yang dapat dimanfaatkan. Karena itulah sebaiknya harus dicari titik temu dalam peperangan apapun, gencatan senjata harus diusahakan sampai lahir perdamaian.

"Dalam jihad akbar, perdamaian hanya terjadi dalam diri manusia. Jihad akbar bukan hanya kekuatan akal, pikiran, dan kesadaran, tetapi juga kebijaksanaan, muslihat, dan diplomasi," katanya.

Usaha itulah yang seharusnya kita lakukan. Sebelum menjalankan puasa harus dipersiapkan diri dengan pelbagai amal saleh, karena puasa juga ingin memenangkan tanpa harus menghabisi atau memusnahkan.

Menurut Candra, salah satu tujuan puasa yang terbesar yaitu bisa melepaskan belenggu kebiasaan. Diharapkan di saat puasa, seorang belajar untuk mengolah kemampuannya agar tidak mudah terkena bujuk rayu setan dan sebisa mungkin mengendalikan diri dari sesuatu yang tidak manfaat.

"Namun, hal ini tentu saja bukan perkara mudah karena pada dasarnya manusia dalam kehidupannya telah dipengaruhi unsur unsur kebiasaan," katanya.

Seperti terbiasa membuang waktu yang tak bermanfaat, terbiasa untuk makan minum, berpakaian, memenuhi seluruh kehidupan secara instan dan konsumtif. Sehingga untuk melepaskan diri dari belenggu kebiasaan, tentu akan merasa kesulitan.

Padahal puasa mengajarkan kepada seseorang untuk menahan makan kau minum, mengendalikan emosi, tidak berlebihan dalam menggunakan harta, dan segala sesuatu yang membatalkan puasa, serta meletakkan sebagai harta yang disayanginya untuk fakir miskin. Dengan berpuasa, diharapkan manusia mampu belajar banyak untuk memadukan sisi buruknya dengan sisi yang seharusnya dilakukan manusia agar akhirnya menjadi pemenang.

"Pemenang dalam menafikan kebiasaan yang selalu saja menerkanya. Pemenang karena telah memperoleh lalu Lailatul Qadar," katanya.

 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...

Berita Lainnya

Play Podcast X