Antisipasi Arus Balik, Menhub Minta Landasan 2-3 Bandara Soekarno-Hatta Dioptimalkan

Red: Bilal Ramadhan

Sabtu 13 Apr 2024 08:49 WIB

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meninjau kesiapan arus balik Lebaran di Bandara Soekarno Hatta. Menhub meminta AirNav mengoptimalkan landasan 2 dan 3 Bandara Soekarno-Hatta. Foto: ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meninjau kesiapan arus balik Lebaran di Bandara Soekarno Hatta. Menhub meminta AirNav mengoptimalkan landasan 2 dan 3 Bandara Soekarno-Hatta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi meminta AirNav Indonesia mengoptimalkan landasan pacu (runway) 2 dan 3 di Bandara Soekarno-Hatta. Ini agar pesawat dapat landing secara bersama-sama, sehingga memaksimalkan angkutan arus balik Lebaran 2024.

“Untuk memaksimalkan pergerakan pesawat, kepada AirNav Indonesia untuk mengoptimalkan runway ketiga Bandara Soekarno-Hatta runway, dimana runway kedua dan ketiga harus dapat landing bersama-sama,” kata Budi Karya, di sela mengunjungi Bandara Soekarno-Hatta, di Tangerang, Banten, Jumat (13/4/2024).

Baca Juga

Menhub mengecek pergerakan penumpang dan pesawat pada masa arus balik di Bandara Soekarno-Hatta. Budi dalam keterangan resminya di Jakarta menyampaikan, pengoperasian landasan pacu 2 dan 3 secara bersamaan sangat penting untuk mengoptimalkan pergerakan pesawat, sehingga dapat maksimal dalam melayani penumpang arus balik Lebaran 2024.

“Apabila semua instrumen dilaksanakan pergerakan pesawat bisa 110 per jam. Sekarang baru 87 dan menuju ke arah situ. Tapi dengan 87 pergerakan per jam pun sudah bisa mengakomodasi 1.236 sehari, itu luar biasa," ujar dia.

Budi menyebut penerbangan saat arus mudik di Bandara Soekarno-Hatta mencapai titik tertinggi pada H-4 atau 6 April 2024 dengan 1.236 penerbangan (take off dan landing) dan 187.750 penumpang.

Sedangkan seusai Lebaran hingga peninjauan yang dilakukan, titik tertinggi terjadi pada 11 April 2024 yakni terdapat 843 penerbangan dengan 121.325 penumpang.

Di sini pergerakan sudah mencapai 1.236 mendekati tahun 2019 sebesar 1.280. Kejutannya adalah jumlah penumpangnya lebih besar. Kalau di Jakarta lebih besar 101 persen dibandingkan 2019, sedangkan di Bali 104 persen. Ini tidak mungkin terjadi jika kita tidak melakukan kolaborasi,” ujar dia.

Melihat angkat tersebut, Budi mengatakan, jelang puncak arus balik yang diperkirakan terjadi pada Minggu (14/4) hingga Senin (15/4) mendatang, ia meminta semua pihak kembali berkolaborasi mewujudkan mudik yang berkeselamatan.

“Saya mengingatkan bahwa biasanya arus balik ini masalahnya di bagasi, karena jumlah pergerakan yang akan datang hari Senin (15/4) itu pasti melebihi 1.236, saya menduga ini akan sampai 1.250. Jadi semua maskapai harus mempersiapkan diri,” kata Budi lagi.

Untuk menghindari kepadatan pada arus balik, Menhub menganjurkan pemudik untuk kembali lebih awal. Disamping itu Menhub dan jajaran juga telah mempersiapkan beberapa skenario untuk mengantisipasi apabila kepadatan tetap terjadi.

“Kalau arus balik itu berbeda dengan mudik yaitu sentripetal atau menuju ke satu titik, yakni Jakarta, bukan menyebar seperti mudik. Pemerintah telah menyiapkan skenario untuk mengantisipasinya. Satu lagi untuk arus balik saya minta kepolisian lakukan penegakan hukum seperti merazia travel gelap,” kata Budi.

Terpopuler