Sensasi Agak Lain Mudik Menggunakan Kapal Laut Ambon-Jakarta

Red: Setyanavidita livicansera

Rabu 10 Apr 2024 07:38 WIB

Suasana Mudik Lebaran 2024 di Kapal Nggapulu Foto: Antara/Dedy Azis Suasana Mudik Lebaran 2024 di Kapal Nggapulu

REPUBLIKA.CO.ID, AMBON -- Mudik atau pulang kampung telah menjadi ritual budaya tahunan bagi masyarakat Indonesia menjelang hari besar keagamaan, seperti Hari Raya Idul Fitri 2024/1445 Hijriah. Mudik dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti pulang ke kampung halaman.

Namun, mudik ada yang menyebut dari akronim bahasa Jawa "mulih dhisik", artinya pulang sebentar dulu, atau "mulih dhilik" yang artinya pulang sebentar. Mudik dilakukan masyarakat Indonesia sebagai wujud penghargaan kepada orang tua dan keluarga besar di kampung halaman. Mudik juga sebagai bentuk syukur atas anugerah kesehatan, keselamatan, dan limpahan rezeki.

Baca Juga

Oleh karena itu, untuk bisa mudik masyarakat menempuh perjalanan menggunakan berbagai macam moda transportasi agar bisa sampai ke kampung halaman, tergantung jarak, kondisi dan efisiensi waktu tempuh. Sarana transportasi itu dapat berupa mobil, sepeda motor, pesawat terbang, kereta api hingga kapal laut.

Masing-masing sarana transportasi tentu memberikan pengalaman yang berbeda-beda. Mudik menggunakan moda transportasi kapal laut misalnya, memberikan pengalaman yang sangat berkesan dan suit untuk dilupakan.

Moda transportasi kapal laut sangat diminati oleh masyarakat dari dan ke wilayah Indonesia timur. Bagi masyarakat Indonesia timur mudik dengan kapal laut seolah menjadi pilihan terakhir, mengingat harga tiket pesawat terbang pada momen seperti ini cukup mahal.

Apalagi, wilayah Indonesia yang tersambung rapi oleh lautan luas membuat mudik dengan kapal laut selalu menjadi pilihan bagi sebagian besar masyarakat, tak terkecuali para pemudik dari Kota Ambon, Provinsi Maluku.

Pada 4 April 2024 tepat pukul 21.00 WIT, tiga kali stomp KM Nggapulu milik PT Pelni berbunyi menandakan jangkar telah ditarik. Kapal siap memulai perjalanan membelah lautan Indonesia timur mengantar penumpang yang akan mudik.

KM Nggapulu mengangkut lebih dari 2.000 penumpang dari Pelabuhan Yos Sudarso Kota Ambon membelah lautan  menuju Bau-bau, Makassar, Surabaya, dan Jakarta. KM Nggapulu terlihat sesak dipenuhi ribuan penumpang berikut barang bawaanya. PT Pelni bersama pihak terkait memberikan kuota tiket nonseat atau tanpa tempat duduk bagi yang tetap ingin berlayar.

“Hal itu merupakan kebijakan dari Kementerian Perhubungan dan disesuaikan dengan kapasitas dan alat keselamatan kapal yang tersedia,” kata Kepala operasi PT Pelni Cabang Ambon, Budiharto.

Apalagi, Dinas Perhubungan Provinsi Maluku mencatat terjadi peningkatan penumpang kapal laut pada musim mudik Lebaran dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Menurut Kadishub Maluku Muhammad Malawat, pada 2022 jumlah pemudik Lebaran menggunakan kapal laut sebanyak 7.354 orang, kemudian terjadi peningkatan sebesar 295 persen pada 2023 atau sebanyak 29.051 orang.

Terjadinya peningkatan pemudik menggunakan kapal laut di antaranya disebabkan tingginya harga tiket pesawat. Hal itu bisa dibuktikan dengan terjadi penurunan penumpang pesawat hingga 20,33 persen dalam waktu dua tahun terakhir.

Akibat adanya peningkatan jumlah pemudik kapal laut tersebut maka masyarakat yang mendapatkan tiket nonseat atau tanpa tempat duduk harus rela menanggalkan kenyamanannya. Bermodalkan tikar yang terbuat dari kantong semen bekas, setiap sudut di KM Ngapulu menjadi tempat tidur nyaman yang disekat menggunakan koper dan tas bawaan penumpang.

Bahkan, dinding pintu toilet hingga anjungan kapal pun tak luput dipenuhi penumpang dengan tiket nonseat. “Yang penting bisa Idul Fitri dengan keluarga, dari pada harga tiket pesawat tiga kali lipat dari tiket kapal,” kata salah satu pemudik, Daffa Aulia.

Daffa merupakan satu dari sekian banyak penumpang KM Nggapulu rute Ambon-Jakarta. Daffa harus rela berlayar empat hari tiga malam untuk bisa mudik ke kampung halamannya. Meski demikian, pihak Pelni memastikan para penumpang mendapatkan asupan makanan yang cukup. Setidaknya tiga kali sehari ditambah waktu sahur dan berbuka puasa.

Para petugas kapal akan mengumumkan kepada para penumpang untuk mengambil jatah makanan di pantry yang berada di deck empat. Makanan yang disediakan cukup layak dan mengenyangkan.

Namun begitu, mengingat penumpang yang banyak penumpang, maka antrean selalu mengular setiap hari. Butuh waktu sekitar tiga jam agar seluruh penumpang mendapatkan jatah makanan.

Interaksi Penuh Keakraban

Berhari-hari di atas kapal tanpa jaringan internet tak banyak yang bisa dilakukan para penumpang untuk mengisi waktu luang hingga sampai ke pelabuhan tujuan. Pihak kapal memang menyediakan hiburan seperti bioskop mini yang diputar tiga kali sehari dengan tarif Rp20 ribu per tiketnya.

Namun satu-satunya hiburan yang bisa dirasakan para penumpang tanpa merogoh kocek adalah deck tujuh. Di lantai paling atas KM Nggapulu yang sedikit terbuka ini para penumpang dapat melihat langsung hamparan laut lepas sejauh mata memandang.

Tak hanya itu, ada kafetaria yang menyediakan aneka makanan dan minuman yang bisa dinikmati pada meja yang telah disediakan. Di deck tujuh, semua orang yang tidak saling mengenal dengan tujuan pelabuhan yang berbeda seolah menjadi teman lama yang hanyut dalam obrolan-obrolan lepas dan santai.

Mereka yang berasal dari latar belakang berbeda pun menjadi akrab satu sama lain. Obrolan selalu dimulai dengan pertanyaan ‘tujuan mana?’ hingga merambat membahas topik-topik lainnya.

Ada juga sekelompok penumpang yang melakukan konser dadakan untuk menghibur penumpang lainnya. Hal itu dilakukan hanya bermodalkan gitar lalu menyanyikan tembang pilihan dan membawa suasana malam hari terasa sendu. Paling tidak interaksi seperti itulah yang bisa dilakukan hingga sampai di pelabuhan tujuan.

Terpopuler