Penjelasan Hikmah Berpuasa Ramadhan

Rep: mgrol151/ Red: Erdy Nasrul

Kamis 04 Apr 2024 21:30 WIB

Pekerja Tambang tengah menjalani ibadah puasa (ilustrasi) Foto: VOA Pekerja Tambang tengah menjalani ibadah puasa (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Hikmah adalah kebijakan dari Yang Maha Bijaksana yaitu Allah subhanahu wa ta’ala dan sesuatu yang istimewa dan sempurna. Setiap umat Muslim yang mendapatkan hikmah dari Allah maka termasuk sebagai orang yang beruntung. 

Puasa dalam konteks agama Islam tidak hanya dianggap sebagai kewajiban ritual, tetapi juga memiliki berbagai hikmah yang mendalam.

Baca Juga

Pertama, puasa adalah ibadah yang ditujukan hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala. Karena ketika seseorang berpuasa, maka ada tantangan untuk melawan hawa nafsu terhadap hal-hal yang ia sukai. Misalnya makan dan minum di siang hari, berhubungan suami istri, 

Dengan demikian, hikmah dari berpuasa adalah bisa melawan hawa nafsu untuk kewajiban diri sendiri sebagai umat Muslim.

Kedua, dengan berpuasa seseorang bisa meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 183,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ - ١٨٣

Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah: 183).

Ketakwaan seseorang ketika berpuasa bisa dilihat ketika orang tersebut berusaha untuk menahan diri dari segala hal yang membatalkan puasa dan dari perbuatan berbohong.

Dalam hadis dijelaskan:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan. (HR. Bukhari no. 1903).

Ketiga, hikmah dari berpuasa adalah meringankan lalainya manusia, kerasnya hati manusia dan syahwat. Sebab, dengan berpuasa seseorang akan berusaha memperbaiki diri dengan mendekatkan diri kepada Allah sehingga membuatnya tidak lalai terhadap kewajibannya. 

Namun sebaliknya, bagi manusia yang tetap menuruti syahwat maka akan membuatnya lalai, kerasnya hati, dan memenangkan hawa nafsunya. 

Maksud dari hawa nafsu tersebut adalah  manusia yang terlalu berlebihan ketika makan dan minum. Karena Rasulullah bersabda, yang artinya: “Seburuk-buruknya manusia adalah orang yang hanya memikirkan perutnya.”

Dalam hadis dijelaskan:

ما ملأ آدميٌّ وعاءً شرًّا من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يُقمن صلبَه، فإن كان لا محالة، فثُلثٌ لطعامه، وثلثٌ لشرابه، وثلثٌ لنفَسِه 

Tiada tempat yang manusia isi yang lebih buruk ketimbang perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya) maka hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernapas. (HR Ahmad).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menganjurkan untuk tidak berlebihan dalam hal makanan dan minuman. Untuk itu, dianjurkan untuk mengisi perut dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk bernafas. 

Terpopuler