Media Arab Soroti Hidangan Ketupat Hingga Rendang di Hari Raya Idul Fitri

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil

 Ahad 23 Apr 2023 14:22 WIB

Media Arab Soroti Hidangan Ketupat Hingga Rendang di Hari Raya Idul Fitri. Foto:   Warga mengangkat ketupat yang sudah matang di usaha rumahan pembuat ketupat, Sleman, Yogyakarta, Kamis (20/4/2023). Jelang Idul Fitri 1444 H ini pesanan ketupat dan lontong menjapai 3,000 buah. Setiap ketupat dijual ke pelanggan dengan harga Rp 3000 an. Untuk membuat 3 ribu ketupat diperlukan lebih dari kuintal beras, dan proses masak selama delapan jam. Foto: Republika/Wihdan Hidayat Media Arab Soroti Hidangan Ketupat Hingga Rendang di Hari Raya Idul Fitri. Foto: Warga mengangkat ketupat yang sudah matang di usaha rumahan pembuat ketupat, Sleman, Yogyakarta, Kamis...

Rendang dan ketupat menjadi hidangan Idul Fitri.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Media Arab menyoroti hidangan ketupat hingga rendang yang telah menjadi tradisi dalam merayakan Hari Idul Fitri di Indonesia. Arab News melaporkan, salah satu makanan pokok Idul Fitri di Indonesia adalah rendang, hidangan daging yang dimasak perlahan yang direbus dalam santan, lengkuas, serai, dan bumbu aromatik lainnya hingga tampak menjadi karamel.

Makanan lezat rendang berasal dari Sumatra Barat. Namun sekarang memiliki banyak variasi di seluruh wilayah Indonesia. Rendang sering dipasangkan di meja dalam merayakan Idul Fitri dengan opor ayam, yakni sup ayam Jawa yang dibuat dengan merebus daging dalam santan, pasta kari, dan serai.

Baca Juga

Lalu ada ketupat, yaitu kue beras yang dikemas di dalam janur yang dianyam menjadi ketupat. Banyak yang percaya hidangan itu diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, seorang teolog abad ke-15 dan salah satu dari sembilan misionaris legendaris yang berjasa menyebarkan Islam di Jawa.

"Selama Idul Fitri, kami akan selalu menyajikan ketupat, rendang, opor ayam, daun pepaya dan kacang panjang yang dimasak dengan santan, dan hati ayam dan kentang dengan cabai goreng," kata Diella Yasmine, warga Jakarta, seperti dilansir Arab News, Ahad (23/4/2023).

Selain rendang, ketupat dan opor ayam, Yasmine juga biasa menyajikan telur petis yaitu telur rebus yang digoreng dengan saus udang. Hidangan ini diasosiasikan dengan masa kecilnya dan akar keluarganya. Ayahnya orang Jawa Timur dan telur petis ini salah satu masakan yang wajib disajikan di meja makan di sana.

"Hidangan itu selalu mengingatkan saya pada rumah nenek saya. Saat kami pulang ke kampung halaman, hidangan ini selalu disajikan. Nenek dan kakek saya sudah meninggal, jadi telur petis ini sangat berkesan," katanya.

Yasmine mengatakan, keluarganya sangat ketat untuk urusan hidangan Hari Raya Idul Fitri. Bahkan ada resep yang diturunkan dari generasi ke generasi. "Dari kakek buyut saya. Semua takarannya harus sesuai dengan resepnya," ujar Yasmine.

Selain resep tradisional yang otentik, menurutnya ada satu unsur lain yang sangat menentukan keberhasilan sebuah masakan. Rahasia masakan lebaran keluarganya adalah menggunakan tungku tradisional.

"Ini membuatnya unik dibandingkan dengan masakan kami yang biasa. Keluarga saya akan selalu menggunakan tungku tradisional dan sabut kelapa, yang memberikan rasa berasap saat kami memasak masakan dengan santan," ujarnya.

Umat Muslim di seluruh Asia Selatan dan Tenggara merayakan Idul Fitri dengan pesta di mana hidangan lokal tradisional yang khas tidak hanya menandai akhir bulan puasa selama Ramadhan, tetapi melalui makanan, juga membantu memperkuat ikatan keluarga dengan orang yang mereka cintai dan nenek moyangnya.

Asia adalah rumah bagi sekitar 65 persen Muslim dunia, dan tiga negara mayoritas Muslim terbesar, berdasarkan populasi, dapat ditemukan di sana, yaitu Indonesia, Pakistan, dan Bangladesh.

Di Indonesia, lebih dari 230 juta orang mengaku menganut Islam, angka yang mewakili 86 persen populasi negara dan sekitar 13 persen dari seluruh Muslim di dunia. Negara kepulauan yang membentang lebih dari 5.000 kilometer dari timur ke barat dan 1.700 kilometer dari utara ke selatan ini merupakan rumah bagi lebih dari 1.000 suku bangsa yang berbeda, yang semuanya memiliki tradisinya masing-masing.

Selama Idul Fitri, kebiasaan dan tradisi membentangkan perbedaan normal antara kelompok-kelompok di negara yang begitu beragam itu. Di antaranya berderma, mengunjungi kerabat, membeli pakaian baru untuk sholat Id, dan duduk untuk merayakan hidangan lokal dan nasional yang populer.

 

Berita Lainnya