Sabtu 08 Apr 2023 21:30 WIB

Bazar Ramadhan Malaysia Dibayangi Kenaikan Harga Bahan Pangan

Bazar Ramadhan merupakan hal yang lumrah terlihat di Malaysia selama Ramadhan.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Muhammad Hafil
Bazar atau pasar Ramadhan di Malaysia.
Foto: BERNAMA
Bazar atau pasar Ramadhan di Malaysia.

REPUBLIKA.CO.ID,KUALA LUMPUR -- Bazaar Ramadhan merupakan hal yang lumrah terlihat di Malaysia selama bulan suci Ramadhan. Setiap pedagang berupaya menarik pelanggan untuk membeli makanan dan minuman yang mereka jajakan.

 

Baca Juga

Di tahun ini banyak pedagang yang mengeluh bisnis berjalan sangat lambat, terutama selama hari kerja. Ini menjadi salah satu alasan mengapa mereka berupaya memanggil calon pelanggan, salah satunya dengan berteriak, untuk menarik mereka ke lapak yang ada.

Di tengah penjualan yang lesu dan biaya bahan yang meningkat, beberapa pedagang harus memutar otak dan berkreasi dengan penawaran mereka. Di sisi lain, tidak jarang ada yang memilih untuk menaikkan harga.

Bagi banyak pedagang, mendirikan toko di bazaar ini merupakan cara untuk mendapatkan penghasilan tambahan sebelum musim perayaan. Kuning Saidatul Izween, merupakan salah satu pedagang yang mencoba peruntungan tersebut.

Wanita yang mengoperasikan warung Mummy Ween di bazaar di sebelah stadion Shah Alam ini menyebut bisnis tahun ini relatif lambat. Dia harus memutar strategi bisnisnya untuk menarik pelanggan.

Selama delapan hari pertama Ramadhan, dia dan suaminya menjual “nasi hujan panas”, yang juga dikenal sebagai nasi pelangi. Sebungkus nasi dengan daging dan lauk pauk yang dijual seharga 15 ringgit Malaysia (Rp 51.000) ini ternyata minatnya rendah.

"Ada banyak persaingan dan banyak warung yang menjual beras tidak laku,” kata wanita berusia 35 tahun itu dikutip di CNA, Sabtu (8/4/2023).

Menurutnya, orang-orang banyak yang membatasi pengeluarannya karena awal Ramadhan datang hanya beberapa hari setelah pembukaan kembali sekolah. Orang tua harus membelanjakan kebutuhan sekolah anak-anak mereka terlebih dahulu.

Pedagang makanan purna waktu itu kemudian mengubah strategi bisnisnya dan mulai menjual makanan yang dimasak di tempat, seperti nasi goreng dan mie goreng.  Harga makanan ini bermula dari 7 ringgit Malaysia atau Rp 23.800.

Izween mengatakan dia berupaya mempertahankan harga hidangan ini sama seperti dua tahun terakhir, tetapi harus mengurangi jumlah bahan yang digunakan. Hal itu disebabkan oleh naiknya harga bahan baku.

Pedagang bazaar lain yang harus mengubah strategi bisnis untuk menarik pelanggan adalah Badri Zulkarnain.  Badri, yang kini menjual kue tradisional Melayu, memulai dengan menjual nasi lemak (nasi kelapa) selama dua hari pertama Ramadhan.

Bisnis yang buruk menyebabkan dia kehilangan sekitar 600 ringgit Malaysia untuk setiap harinya. Makanan yang tidak terjual disumbangkan ke surau setempat.

Badri dan temannya kemudian memutuskan untuk menjual kue tradisional Melayu, seperti kueh lapis dan ondeh-ondeh (sejenis bola ketan berwarna hijau) untuk membendung kerugian mereka. Satu bungkus kue dijual seharga 4 ringgit, sementara seikat tiga bungkus dijual seharga 10 ringgit Malaysia.

“Sekarang saya bisa mendapat untung, tapi itu tidak mudah karena persaingan di sini,” kata Badri.

Pria berusia 30 tahun itu menambahkan bisnis pada hari kerja tidak sebaik akhir pekan. Dua kios kosong di seberangnya bahkan disebut hanya beroperasi pada hari Sabtu dan Ahad.

Berbeda dengan hari-hari biasa, ia menyebut selama akhir pekan bazaar penuh sesak. Bahkan menurutnya para pelanggan tidak memiliki banyak tempat untuk berjalan.

Salah satu dampak dari penjualan yang lebih lambat adalah pemborosan makanan. Media lokal melaporkan pedagang bazar Ramadhan di daerah Kuala Lumpur dan Putrajaya di Malaysia membuang lebih dari 47.000 kilogram makanan setiap hari, setara dengan jumlah yang dapat memberi makan hampir 40.000 orang.

Presiden Asosiasi Pedagang Malaysia, Rosli Sulaiman, mengatakan pedagang bazaar Ramadhan tidak dapat menurunkan harga untuk mengatasi penjualan yang lebih lambat. Hal ini mengingat harga bahan baku dan bahan pangan yang mengalami peningkatan.

“Karena harga bahan baku dan bahan-bahan sudah naik, (pedagang ini) tidak bisa menurunkan harga barang yang mereka jual. Kalau hal ini tidak dilakukan, mereka tidak untung,” ujar Rosli.

Ia pun menyontohkan harga ikan pari naik dari 18 ringgit menjadi 24 ringgit per kilogram. Di sisi lain, harga ikan kembong naik menjadi 15 ringgit per kilogram.

Para pedagang kemudian harus menyampaikan kenaikan harga bahan baku kepada pelanggan. Pada gilirannya, hal ini menyebabkan pelanggan menunda membeli produk dengan harga yang lebih tinggi dan menghabiskan lebih sedikit uang di bazaar.

Terlepas dari harga barang yang tampaknya lebih tinggi di bazaar Ramadhan, pelanggan mengatakan mereka masih membeli produk yang ditawarkan, tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit.

Salah satu pembeli, Razman Muhammad, mengatakan ia akan membandingkan harga barang terlebih dahulu sebelum melakukan pembelian. Ia juga mengakui ada kenaikan harga dari tahun-tahun sebelumnya.

“Pada akhirnya, sebagai pelanggan kami memiliki kekuatan untuk melakukan pembelian atau sebaliknya.  Kalau terlalu mahal, masih banyak pilihan lain termasuk memasak di rumah,” ujarnya.

Ia juga menyebut masih ada warung yang menjual makanan dengan harga terjangkau.

Pria berusia 37 tahun ini berupaya memastikan hanya membeli makanan dalam jumlah cukup untuk dia dan keluarganya, untuk mencegah pemborosan makanan. Bulan Ramadhan disebut identik dengan moderasi. 

Sumber:

https://www.channelnewsasia.com/asia/malaysia-ramadan-bazaar-high-prices-slow-sales-traders-customers-iftar-3401501

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement