Selasa 21 Mar 2023 17:15 WIB

Buka Puasa dengan Air Putih Lebih Menyehatkan Dibanding Minuman Manis, Ini Alasannya

Benarkah minuman manis bisa mengendalikan kadar gula darah yang turun setelah puasa?

Rep: Desy Susilawati/ Red: Qommarria Rostanti
Segelas air putih (ilustrasi). Pakar kesehatan menyarankan, lebih baik buka puasa dengan air putih dibandingkan minuman manis.
Foto: Pixabay
Segelas air putih (ilustrasi). Pakar kesehatan menyarankan, lebih baik buka puasa dengan air putih dibandingkan minuman manis.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- "Berbukalah dengan yang manis". Tagline ini sudah sangat melekat pada masyarakat Indonesia ketika memasuki bulan Ramadhan.

Banyak yang percaya, berbuka puasa dengan minuman atau makanan manis bisa mengembalikan kadar gula darah yang sudah turun. Benarkah demikian?

Baca Juga

Salah satu hasil penelitian survei dari Health Collaborative Center (HCC) menunjukkan air putih dan air mineral menjadi preferensi utama untuk membatalkan puasa, juga pada saat sahur. Hasil studi mengatakan, mayoritas masyarakat Indonesia mengatakan selama puasa pada waktu buka puasa, mereka ingin minum air putih atau air mineral terlebih dahulu.

"Bukan air yang berwarna dengan bahan dasar gula atau pemanis," kata peneliti utama dan Ketua HCC dr Ray Wagiu Basrowi dalam paparan hasil studinya di Jakarta, Senin (20/3/2023).

Ray mengatakan, setelah puasa 12 sampai 14 jam, yang dibutuhkan sistem pencernaan baik dari mulut sampai usus adalah hidrasi, bukan gula, garam, dan lemak. Sumber hidrasi utama adalah air, air putih bersih, atau air mineral.

"Itu sebabnya ketika membatalkan puasa yang dianjurkan dari kalangan kedokteran dan ilmu kesehatan adalah hidrasi dengan air, bukan dengan air mengandung gula, pemanis atau bersoda, tapi air putih atau mineral yang sumbernya baik," ujarnya.

Hal ini berguna untuk menjaga metabolisme dan mempersiapkan sistem pencernaan untuk mencerna pangan dan makanan lain yang akan dikonsumsi selanjutnya. Ray mengatakan ketika puasa, suasana keseimbangan homeostatis terganggu. Satu-satunya cara untuk menetralisasi homeostatis adalah dengan air atau hidrasi.

"Kalau sudah baik, baru disuplai dengan makanan apapun, namun lebih baik dengan makanan tinggi serat dan protein," ujarnya.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement