Ramadhan Berakhir, Jangan Tinggalkan Kebiasaan Baik di Bulan Ramadhan

Rep: Dessy Susilawati/ Red: Muhammad Hafil

 Rabu 04 May 2022 08:46 WIB

 Ramadhan Berakhir, Jangan Tinggalkan Kebiasaan Baik di Bulan Ramadhan. Foto: Bulan Ramadhan (ilustrasi) Foto: Dok Republika Ramadhan Berakhir, Jangan Tinggalkan Kebiasaan Baik di Bulan Ramadhan. Foto: Bulan Ramadhan (ilustrasi)

Jangan tinggalkan kebiasaan baik meski Ramadhan usai.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Tidak terasa bulan Ramadhan 1443H telah berakhir dan pergi meninggalkan kita. Bulan Ramadhan yang disebut sebagai bulan tarbiyah atau bulan pengajaran ini telah banyak mengajari kita mulai dari membiasakan beribadah lebih giat, membiasakan diri berpuasa, dan kebiasaan-kebiasaan lainnya. Pertanyaannya, apakah setelah Ramadhan kita akan terus mempertahankan kebiasaan-kebiasaan baik tersebut? Ataukah malah sebaliknya?

Mantan Ketua Umum PB Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr Zaenal Abidin, SH, MH mengatakan sebagian dari umat Islam itu selalu merasa kehilangan atau ditinggal bulan penuh rahmat, ampunan dan pembebasan ini ketika bulan tersebut akan berakhir. Pada saat tarawih malam terakhir misanya, tak jarang kita menyaksikan jamaah meneteskan air mata, merasakan rindu yang dalam karena akan ditinggal sang kekasih yang belum tentu dapat bertemu kembali.

Baca Juga

“Puasa adalah bukti dari kontinuitas ajaran agama-agama yang diturunkan Allah sebelum Islam yang dibawa Rasulullah Saw," ujarnya dalam Seri Webinar Ramadhan 1443H : Menghadirkan Spirit Ramadhan Di Luar Bulan Ramadhan, belum lama ini.

Ditegaskan pula adanya sebuah fakta yang tak dapat diragukan bahwa puasa sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia. Memperbaiki kesehatan mental dan fisik manusia.

"Semoga segala kebiasaan baik kita baik pola hidup, pola makan, serta ibadah ritual dan sosial, selama Ramdhan dapat kita amalkan di luar Ramadhan.”

Sejalan dengan dr Zaenal, Dr Taufan Maulamin, SE, Ak., MM mengungkapkan ketika bulan Ramadhan ada beberapa kewajiban yang harus kita tuntaskan, pertama haknya Al-qur’an itu dikhatamkan dua kali dalam setahun, artinya ketika kita dalam bulan ramadhan belum bisa mengkhatamkannya sampai ramadhan yang akan datang kita punya kewajiban untuk mengkhatamkannya sebanyak dua kali. Kedua Tadabbur, Ramadhan harusnya menjadikan kemampuan intelektual kita, cendikiawanan atau dalam bahasa Al-qur’an disebut ulil albab itu harus terasah bahkan harus direset ulang dengan bacaan-bacaan Al-qur’an sehingga pikiran-pikiran yang mungkin tidak paralel dengan Al-qur’an pada ramadhan haruslah diselaraskan dengan nilai-nilai Al-Qur’an.

"Ramadhan akan menjadi bulan yang penuh dengan bacaan Al-Qur’an dan bagaimana proses-proses menyelaraskan nilai-nilai nya bagi kehidupan sehari-hari," jelasnya.

Momentum Ramadhan juga kiranya harus menjadi spirit perubahan pada bulan-bulan berikutnya. Kebiasaan-kebiasaan sepanjang ramadhan haruslah tetap di pertahankan pada bulan-bulan selain Ramadhan diantaranya membaca al-qur’an, sholat berjamaah, shodaqoh dan rasa empati kepada sesama.

"Sehingga ketika hal-hal ini tetap dipertahankan umat muslim akan mampu menjadi umat yang berkemajuan," ujarnya.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X