Patlau dan Ketupat Makanan Khas Lebaran di Bengkayang

Red: Yudha Manggala P Putra

 Senin 02 May 2022 15:20 WIB

Patlau Pntianak. Foto: Antaranews. Patlau Pntianak.

Meski dianggap sederhana, patlau biasanya jadi rebutan.

REPUBLIKA.CO.ID, PONTIANAK-- Masyarakat Muslim di Desa Sungai Jaga, Kabupaten Bengkayang Provinsi Kalimantan Barat menjadikan patlau dan ketupat sebagai makanan khas dan favorit saat merayakan Lebaran Idul Fitri tahun 2022.

"Sudah seperti tradisi masyarakat di sini, setiap hari raya umat Muslim selalu menghidangkan makanan ketupat dan patlau saat keluarga dan tetangga yang bersilaturahmi ke rumah-rumah," kata Yayuk salah seorang warga Sungai Jaga A, Senin (2/5/2022).

Menurut dia, makanan patlau yang memiliki rasa gurih dari santan kelapanya dan ketupat yang memiliki rasa dan aroma yang khas dari daun kelapa mudanya membuat selera makan bertambah, sehingga sangat cocok dihidangkan sembari berkumpul dan bersilaturahmi bersama teman atau keluarga saat perayaan Lebaran Idul Fitri.

"Tanpa adanya hidangan ketupat dan patlau terasa ada yang kurang dari Lebaran itu sendiri. Hidangan ini memang cocok untuk menyambut para keluarga dan teman yang bersilaturahmi ke rumah saat lebaran," ujarnya.

Dia menjelaskan, kedua makanan ini pun menggunakan bahan yang sederhana. Untuk patlau dibuat dari beras ketan yang dimasak dengan santan kelapa lalu ditambah dengan garam, kemudian dibungkus dengan daun pisang muda dan dikukus hingga matang.

Selain itu, ada ketupat yang dibuat dengan anyaman daun muda kelapa yang membentuk segi empat lalu dimasukkan beras yang sudah bersih dan direbus hingga matang.

"Kedua makanan ini bisa dinikmati bersama rendang daging sapi, opor ayam, dan sambal petai atau sambal udang," ujarnya.Sementara itu, Pemerhati Budaya Kalbar, Syafaruddin Usman mengatakan ketupat ini identik dengan Lebaran Idul Fitri maupun Idul Adha."Momen bahagia perayaan Lebaran Idul Fitri atau Idul Adha serasa tidak lengkap bila tidak adanya ketupat Lebaran," kata dia.

Selain itu, dia menjelaskan asal kata patlau yang memiliki rasa yang gurih dan lemaknya terasa itu berasal dari kata lepat lauk karena varian lepat ini biasa dinikmati dengan lauk, yang paling tepat itu dinikmati dengan Soto Makassar dan bisa juga dinikmati dengan sambal ale-ale dan sebagainya.

"Meski dianggap sederhana, tapi biasanya patlau jadi rebutan untuk dibeli dan disajikan atau disiapkan pada hari pertama perayaan Idul Fitri," kata Usman.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X