Hukum Silaturahim Saat Idul Fitri

Rep: mgrol135/ Red: Ani Nursalikah

 Senin 02 May 2022 14:05 WIB

Warga melakukan halal bihalal Idul Fitri 1442 H secara tatap muka di Gang Karya Laksana, Tamansari, Kota Bandung, Kamis (13/5). Ilustrasi. Hukum Silaturahim Saat Idul Fitri Foto: REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA Warga melakukan halal bihalal Idul Fitri 1442 H secara tatap muka di Gang Karya Laksana, Tamansari, Kota Bandung, Kamis (13/5). Ilustrasi. Hukum Silaturahim Saat Idul Fitri

Silaturahim mempunyai peran penting dalam menyambung kembali apa yang putus.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam adat Islam di Indonesia, salah satu kegiatan utama Idul Fitri atau Lebaran adalah mengunjungi keluarga, kerabat, tetangga, dan masyarakat. Setiap tahun, orang-orang datang ke kampung halaman atau pulang dengan tujuan semata-mata untuk menyambung tali cinta ini.

Selain dari tujuan utama, silaturahim merupakan amalan yang bermakna karena mampu menyatukan kembali hal-hal yang sebelumnya terpisah dalam ikatan hablum minannas. Belum lagi manfaat dari silaturahim, antara lain umur panjang dan rezeki bertambah.

Baca Juga

Dilansir NU Online, Sabtu (16/6/2018) disebutkan dalam hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

Laysa al-muwwashil bil mukafi’ wa lakin al-muwwashil ‘an tashil man qatha’ak. (HR. Bukhari)

Artinya: “Bukanlah bersilaturrahim orang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi yang bersilaturrahim adalah yang menyambung apa yang putus.” (HR Bukhari)

Dari sabda Nabi Muhammad tersebut, jelas termaktub bahwa silaturahim menyambung apa yang telah putus dalam hubungan hablum minannas. Manusia tidak terlepas dari dosa maupun kesalahan sehingga menyebabkan putusnya hubungan. Di titik inilah silaturahim mempunyai peran penting dalam menyambung kembali apa yang putus.

Di dalam kitab Mausu'ah Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah disebutkan silaturahim merupakan salah satu syariat Islam.

التَّزَاوُرُ فِي الْعِيدَيْنِ: التَّزَاوُرُ مَشْرُوعٌ فِي الإْسْلاَمِ، وَقَدْ وَرَدَ مَا يَدُل عَلَى مَشْرُوعِيَّةِ الزِّيَارَةِ فِي الْعِيدِ، فَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: دَخَل عَلَيَّ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعِنْدِي جَارِيَتَانِ تُغَنِّيَانِ بِغِنَاءِ بُعَاثٍ. فَاضْطَجَعَ عَلَى الْفِرَاشِ وَحَوَّل وَجْهَهُ، وَدَخَل أَبُو بَكْرٍ فَانْتَهَرَنِي، وَقَال مِزْمَارُ الشَّيْطَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ فَأَقْبَل عَلَيْهِ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَال: دَعْهُمَا زَادَ فِي رِوَايَةِ هِشَامٍ: يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ لِكُل قَوْمٍ عِيدًا، وَهَذَا عِيدُنَا قَال فِي الْفَتْحِ: قَوْلُهُ: ” وَجَاءَ أَبُو بَكْرٍ ” وَفِي رِوَايَةِ هِشَامٍ بْنِ عُرْوَةَ ” دَخَل عَلَيَّ أَبُو بَكْرٍ ” وَكَأَنَّهُ جَاءَ زَائِرًا لَهَا بَعْدَ أَنْ دَخَل النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْتَهُ

Artinya: "Saling berkunjung saat hari raya, ialah perkara yang disyariatkan dalam Islam. Terdapat hadits yang menunjukkan disyariatkannya saling berkunjung saat hari raya.  Diriwayatkan dari Aisyah RA: “Rasulullah SAW mengunjungiku, di sampingku ada dua orang perempuan yang sedang menyanyikan lagu-lagu perang Bu’ats. Lalu beliau rebahan di atas alas tidur, beliau memalingkan wajahnya.”

Abu Bakar masuk rumah mengunjungiku, lalu dia membentakku. Ia berkata, ‘Apakah pantas seruling-seruling setan ada di samping Nabi SAW?’ Rasulullah SAW memandang Abu Bakar lalu berkata, ‘Biarkan merek berdua –dalam riwayat Hisyam ditambahkan keterangan, wahabi Abu Bakar, setiap kaum punya hari raya. Ini adalah hari raya kita.’ Imam Ibnu Hajar berkata dalam kitab Fathul Bari, ‘Abu Bakar datang’ dan dalam riwayat Hisyam bin Urwah ‘Abu Bakar masuk mengunjungiku.’ Seakan-akan Abu Bakar datang mengunjungi Aisyah, setelah Rasulullah SAW mengunjungi Aisyah." (Al-Fiqhiyyah Al-Kuwaitiyyah (31/177)).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X