Lanjutkan Kebaikan Setelah Ramadhan

Rep: Andrian Saputra/ Red: Muhammad Hafil

 Sabtu 30 Apr 2022 22:51 WIB

Lanjutkan Kebaikan Setelah Ramadhan. Foto:   Bulan Ramadhan (ilustrasi) Foto: Dok Republika Lanjutkan Kebaikan Setelah Ramadhan. Foto: Bulan Ramadhan (ilustrasi)

Kebaikan saat Ramadhan harus dilanjutkan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setelah sebulan penuh menunaikan ibadah puasa Ramadhan, umat Muslim bergembira merayakan Idul Fitri 1443 H. Wakil Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang juga pimpinan Majelis Rasulullah, Habib Nabiel Al Musawa mengatakan idul fitri memiliki dua makna. Yaitu dapat bermakna kembali berbuka. Maksudnya kembali makan dan minum seperti biasanya. Atau dapat bermakna kembali pada fitrah atau suci. 

Hal ini menurut Habib Nabiel, dikuatkan dengan sejumlah hadits yang menjelaskan tentang orang yang berpuasa ramadhan, atau yang melakukan qiyamul lail saat Ramadhan, akan dihapuskan dosa-dosanya. Sehingga orang yang diampuni dosanya berarti kembali pada fitrah atau kesucian. Lebih lanjut Habib Nabiel menjelaskan bahwa tradisi saling memaafkan (halal bihalal) seperti yang dilakukan umat Muslim di Indonesia merupakan hal yang baik. Sebab menurut Habib Nabiel saling memaafkan merupakan bentuk ibadah horizontal (Habluminannas). 

Baca Juga

"Ibadah Habluminallah dan Habluminannas itu seperti dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Bagus sholatnya, puasanya, tapi tidak bagus sama orang lain, tidak minta maaf sama orang lain, itu salah. Karena dosa kepada manusia itu tak bisa dimaafkan tanpa kita minta maaf. Maka ketika lebaran tidak ada salahnya kita mohon maaf lahir dan batin," kata Habib Nabiel kepada Republika beberapa waktu lalu. 

Habib Nabiel juga mengajak umat agar tidak mempersoalkan tentang doa-doa atau pun ucapan lebaran. Menurut Habib Nabiel doa seperti Taqabbalallahu minna wa minkum atau doa ja’alanallah minal aidin wal faizinz, atau ucapan mohon maaf lahir batin adalah doa dan ucapan yang memiliki makna bagus di antara sesama Muslim. 

Pakar tafsir Alquran yang juga pengasuh Pondok Pesantren Bayt Alquran-Pusat dan Wasekjen Pengurus Besar Darud Da'wah wal Irsyad (PB DDI), ustaz Syahrullah Iskandar mengatakan bahwa sebulan penuh umat Muslim telah ditimpa agar menjadi insan yang bersih secara spiritual dan peka terhadap sesama. Setiap Muslim telah dididik agar bisa mengendalikan diri dan menjaga keseimbangan antara amarah dan nafsu serta melatih kedisiplinan dan bertanggung jawab. Karena itu menurut ustaz Syahrullah orang yang meraih berkah Ramadhan adalah yang meningkat kesalehan individu dan sosialnya setelah Ramadhan. 

"Ramadhan hanya sebulan, tetapi implikasinya harus terpatri di bulan-bulan setelahnya. Justru, berkah Ramadhan bagi seseorang akan lebih nyata terlihat di bulan-bulan setelahnya. Kesalehan individu semakin meningkat secara kualitas dan kuantitas, demikian halnya kesalehan sosial semakin menaik dan berefek kebaikannya pada banyak orang," kata ustaz Syahrullah.

Lebih lanjut ustaz Syahrullah mengatakan Idul Fitri mengandung makna filosofis sebagai kembalinya nilai-nilai kemanusiaan dan kesucian dalam sanubari seorang Muslim yang menyertai kesehariannya. Seseorang yang beridul fitri berarti menjadi pribadi cerdas yakni mampu menguasai dirinya dan senantiasa berbuat untuk kepentingan ukhrawi.  Segala perbuatan yang dilakukan selalu disertai pertimbangan ukhrawi sehingga terhindar dari merugikan orang lain. 

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas mengatakan bahwa inti ibadah puasa yang telah dilalui umat Muslim adalah agar dapat mengendalikan diri dalam dalam menjalankan segala ketentuan Allah dan RasulNya. Dan buah dari ibadah puasa adalah ketakwaan. Sebab itu menurut Buya Anwar Abbas puasa yang telah dijalani sebulan penuh harapannya dapat menjadikan pribadi yang bertakwa. Sebab dengan menjadi orang yang bertakwa, seseorang akan dapat menjalani hidup dengan selamat dan beruntung di dunia dan di akhirat. 

 Buya Anwar mengatakan puasa Ramadhan yang telah dilalui hendaknya dapat mendorong setiap diri agar menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik yakni pribadi yang tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri namun juga untuk  kepentingan dan kebaikan serta kemaslahatan bagi orang lain dan lingkungan sekitarnya.

"Kita dapat menyimpulkan bahwa orang yang benar-benar bisa menjalani dan memahami serta menghayati nilai-nilai yang ada dalam ibadah puasa Ramadhan tersebut secara baik maka dia tentu akan bisa menjadikan dirinya menjadi sosok anak manusia yang gemar melakukan dan mendorong dirinya dan orang lain untuk berbuat yang makruf dan mencegah dirinya serta orang lain dari berbuat munkar," katanya.

Buya Anwar mengatakan bila pasca Ramadhan setiap Muslim mampu menerapkan nilai-nilai yang ada pada Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari maka akan berdampak besar pada kehidupan berbangsa dan bernegara yang akan lebih baik dan terciptanya kehidupan yang  aman, tentram , damai dan bahagia. 

 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...

Berita Lainnya

Play Podcast X