Suka Duka Puasa di IIUM Malaysia (1)

Red: Hafidz Muftisany

Senin 06 Aug 2012 16:30 WIB

International Islamic University Malaysia (IIUM) International Islamic University Malaysia (IIUM)

REPUBLIKA.CO.ID, Harap maklum kalau ada beberapa mahasiswa asing tingkat satu di kampus saya yang menjawab tidak tahu saat ditanya soal tempat favorit untuk berbuka puasa di Kuala Lumpur dan sekitar.

Sebab kami semua tinggal di dalam area kampus  700ha, dan di dalamnya sudah tersedia berbagai fasilitas dasar untuk mahasiswa seperti hostel, minimarket, kantin, bank, ATM, dll. Saya sendiri termasuk jarang keluar kampus, mungkin hanya 4-5 kali dalam sebulan.

Akan tetapi salah juga kalau mengira kami, mahasiswa International Islamic University Malaysia (IIUM) sedang menikmati asyiknya menyiapkan sajian sahur dan berbuka di hostel kami. Kenyataannya, kami tidak diperbolehkan untuk memasak di hostel kampus!

Namun sebagai gantinya kampus menyiapkan kantin-kantin yang tersebar di seluruh area kampus ini. Keberadaan kantin menjadi satu hal yang cukup krusial dalam dinamika kehidupan kami disini. Kalau kantin hostel tutup, terpaksa harus berjalan kaki cukup jauh ke kompleks hostel sebelah.

Sedihnya, kantin hostel saya ditutup semenjak awal Juli lalu. Menurut informasi dari office, mereka sedang membuka tender untuk menggantikan pengusaha catering yang lama dan belum ada pemberitahuan kapan kantin tersebut akan dibuka lagi. Nasib deh, tiap kali mau makan harus jalan jauh ke hostel sebelah.

Alhamdulillah, bersyukur sekali saat mengetahui bahwa pihak office berhasil membujuk catering owner dari hostel sebelah untuk membuka cabang di kantin kami. Makanannya tentu seadanya dan tidak banyak, dibawa dari sana. Tetap harus disyukuri karena ini sangat menolong kami, asal jangan terlambat belinya karena setengah jam sebelum maghrib biasanya sudah habis. Bukti bahwa penghuni hostel saya sangat membutuhkan bantuan pangan hahahaha…

Tinggal sahurnya yang agak ribet. Ribet mikirnya, hehehe. Saya memutuskan untuk membeli roti tawar, susu dan keju untuk sahur. Tapi ya namanya juga orang Indonesia, seminggu makan roti terus rasanya mual juga. Karena belum memungkinkan untuk menyimpan nasi, saya membuat crème soup instan untuk sahur. Sedangkan tadi pagi saya memasak indomie menggunakan alat masak elektrik mini yang kelegalannya masih belum jelas. Lumayan lah.

Mungkin banyak yang berpikir, kok kesannya saya ini malas sekali sampai-sampai untuk membeli makan saja tidak mau jalan? Jawabannya, iya saya malas. Ups… Setiap hari ke kampus, mau tidak mau harus dijalani. Tapi berjalan kaki di kampus seluas ini memang satu tantangan tersendiri terutama untuk mahasiswa yang di negara asalnya selalu menggunakan kendaraan untuk bepergian seperti Indonesia. Buktinya terlihat dari reaksi kompak semua teman yang berkunjung dari Indonesia : terengah-engah sambil minta istirahat, dan berkata “Kok jauh banget sih jalannya?”.

Untuk saya yang sudah menginjak tahun ketiga sebagai mahasiswa IIUM, tantangannya adalah bagaimana cara saya me-manage waktu dan tenaga dalam waktu sehari untuk bisa mencapai semua tujuan saya dengan berjalan kaki. Mungkin ada yang bilang saya berlebihan, tapi ini benar terjadi dan saya tahu pasti semua teman-teman saya di IIUM merasakannya. Hehehe..

Apalagi di saat berpuasa seperti ini. Jalan kaki bolak-balik dari hostel ke kelas sudah makan tenaga sendiri. Bus kampus tentu ada, tapi hanya pada jam tertentu. Jadilah saya memutuskan untuk tetap berada di kampus walaupun kelas selesai lebih awal, dan baru berjalan pulang setelah ashar. Sekalian beli makanan untuk buka puasa di hostel.

Selepas ashar memang orang-orang mulai menyerbu bazaar yang dibuka saat ramadhan ini. Yang paling ramai jelas booth makanan. Di sana tersedia aneka jenis makanan khas Malaysia, mulai dari kue hingga lauk pauk. Surprisingly saya dan teman menemukan sebuah booth yang menjual bakso arema. Langsung yakin deh kalau yang jual adalah orang Indonesia.

Oleh Habiba Nabila Ihlasuddini (Mahasiswa IIUM, Malaysia)

Rubrik ini bekerja sama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia

Terpopuler