MUI Berpesan, Euforia Ramadhan Jangan Dilakukan Secara 'Lebay'

Red: Djibril Muhammad

Selasa 19 Jul 2011 20:12 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, SAMARINDA - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Samarinda, Kalimantan Timur, KH Zaini Naim meminta masyarakat agar euforia menyambut bulan suci Ramadan tidak dilakukan secara berlebihan alias 'lebay'. "Kecenderungannya, masyarakat kerap salah menafsirkan euforia atau semangat menyabut bulan suci ramadan itu dengan membunyikan petasan dan menyalakan kembang api," kata KH Zaini Naim, Selasa (19/7).

Ia menyatakan Ramadan sebagai waktu untuk menjalankan ibadah sehingga harus disambut dengan melaksanakan ibadah pula. Menjelang bulan suci ramadhan suara petasan dan kembang api kerap terdengar di setiap sudut Kota Samarinda.

Bahkan, suara petasan dan kembang api tersebut terdengar hingga pelaksanaan Idul Fitri. "Menyambut ramadhan bahkan Idul Fitri dengan membunyikan petasan dan menyalakan kembang api tidak sesuai dengan ajaran Islam sehingga seharusnya tidak dilakukan," ujar KH. Zaini Naim.

Menyambut bulan suci ramadhan lanjut dia, umat Islam seharusnya melakukan introspeksi diri. "Bulan suci ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah sehingga harus disambut dengan memperbanyak ibadah. Bukan justru melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat apalagi bertentangan dengan ajaran agama. Jadi, saya menghimbau masyarakat khususnya umat Islam agar senantiasa menjaga kesucian bulan ramadhan itu," ungkap KH. Zaini Naim.

Ketua MUI Samarinda itu meminta Pemerintah Kota Samarinda, khususnya Satpol PP dan pihak kepolisian untuk menertibkan penjualan kembang api dan petasan. "Semua pihak termasuk pemerintah dan kepolisian harus ikut andil dalam memberikan ketenangan bagi masyarakat yang tengah menjalankan ibadah. Peran ulama hanya sebatas memberikan himbauan dan aparat yang seharusnya melakukan tindakan pencegahan," kata KH. Zaini Naim.

Pada bulan suci ramadhan tahun lalu (2010) belasan rumah di Samarinda Seberang hangus terbakar yang diduga disebabkan oleh kembang api. "Selain tidak bermanfaat membunyikan petasan dan menyalakan kembang api juga berbahaya sebab beberapa kasus kebakaran disebabkan oleh petasan dan kembang api. Jadi semestinya hal itu dijadikan pelajaran agar tidak dilakukan apalagi tindakan itu justru mengganggu warga yang tengah melaksanakan ibadah," tutur KH. Zaini Naim.

Dari pantauan hingga Selasa, penjual petasan dan kembang api terlihat mulai marak di beberapa kawasan di Samarinda seperti di Pasar Pagi dan kawasan Jalan Lambung Mangkurat. Bahkan sejak sepekan terakhir, suara petasan dan kembang api mulai terdengar di beberapa tempat di Samarinda.

Terpopuler