Selasa 03 May 2022 17:49 WIB

Usai Ramadhan, Kehangatan Keluarga Menguat

Ramadhan menjadi kesempatan emas untuk lebih menghadirkan kehangatan di dalam rumah.

Ilustrasi sekeluarga mengaji, mengaji sekeluarga, mengaji bersama, ngaji bersama.
Foto: Yogi Ardhi/Republika
Ilustrasi sekeluarga mengaji, mengaji sekeluarga, mengaji bersama, ngaji bersama.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam pandangan Islam, keluarga bukan hanya tempat berkumpulnya suami, istri, dan anak. Lebih dari itu, inilah satuan kekerabatan yang begitu penting dalam menentukan arah peradaban. Bahkan, visi agama ini tentang keluarga tidak cuma berkaitan aspek duniawi, melainkan juga ukhrawi. Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu (QS at-Tahrim: 6).

Ramadhan menjadi kesempatan emas untuk lebih menghadirkan kehangatan di dalam rumah. Keluarga Muslim seyogianya memanfaatkan bulan suci untuk semakin rutin beribadah bersama-sama.Terlebih lagi, kini suasana pandemi mulai kian mereda.Masjid dapat kembali merapatkan shaf sehingga tidak ada alasan untuk menunda- nunda.

Baca Juga

Peran Orang Tua

Betapa menentukannya peran kepala keluarga dan istri dalam merawat keharmonisan di dalam rumah. Apabila keduanya telah memiliki anak, maka fungsinya lebih penting lagi, yakni sebagai ayah dan ibu.Mereka adalah pembimbing utama buah hati.Selama Ramadhan, orang tua dapat lebih berperan, antara lain, untuk memperkenalkan iba dah-ibadah khas bulan ini kepada anak-anak.

Apabila putra atau putri belum menapaki usia akil baligh, maka bimbingan itu dapat bersifat latihan. Misalnya, ajak mereka untuk berpuasa walau tidak seharian penuh.Sebaliknya, apabila anak-anak sudah sampai taraf remaja atau dewasa, mereka dapat dipersilakan untuk lebih tampil. Misalnya, menjadi imam shalat tarawih berjamaah di rumah. Atau, memimpin tadarus Alquran.

Ibadah Bersama

Ramadhan menjadi saat-saat untuk kembali menautkan hati ke masjid. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW memuji generasi muda yang mencintai tempat ibadah Islam tersebut. Maka, ayah maupun ibu dapat lebih mengarahkan putra- putrinya untuk lebih sering beribadah jamaah di sana.

Tentunya, tidak sekadar kata-kata nasihat. Untuk lebih menghangatkan hubungan antara orang tua dan buah hati, rutinkanlah berangkat bersama-sama ke masjid, lalu habiskan lebih banyak waktu di sana.Beberapa momen, semisal shalat Tarawih, iktikaf, atau malam Nuzulul Qur'an, dapat menjadi kesempatan untuk semakin meningkatkan rasa keterikatan keluarga pada rumah Allah.

sumber : Islam Digest
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement