Memaknai Kemenangan Usai Berpuasa di Bulan Ramadhan

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Muhammad Hafil

 Selasa 03 May 2022 13:25 WIB

 Memaknai Kemenangan Usai Berpuasa di Bulan Ramadhan. Foto:  Ilustrasi Idul Fitri Foto: MGIT03 Memaknai Kemenangan Usai Berpuasa di Bulan Ramadhan. Foto: Ilustrasi Idul Fitri

Usai Ramadhan, umat Islam merayakan kemenangan.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Setelah sebulan penuh menjalani puasa di bulan Ramadhan, umat Muslim di dunia kini merayakan kemenangan. Dalam menjalani hari istimewa ini, ada beberapa hal yang perlu direnungi agar terasa lebih bermakna.

Wakil Menteri Agama, KH Zainut Tauhid Sa'adi menyebut Idul Fitri adalah momen kemenangan bagi umat Muslim dari perang melawan hawa nafsunya sendiri. Esensi kemenangan yang diwayakan umat Muslim adalah tentang bertambahnya kesadaran akan ketundukkan kepada Allah ta’ala dan kesadaran akan pentingnya menebar manfaat dan maslahat bagi sesama.

Baca Juga

"Setelah berpuasa selama Ramadan, Muslim tumbuh menjadi pribadi yang memiliki perisai dari godaan hawa nafsunya. Karenanya, lebaran atau kemenangan itu bukan berarti sebatas mengenakan pakain atau hiasan baru,"  kata dia dalam pesan teks yang diterima Republika, beberapa waktu lalu.

Salah satu hikmah Ramadan adalah kepedulian dan puasa mengasah hal itu sekaligus empati terhadap sesama. Hal ini merupakan kunci penting dalam menjalani kehidupan sekaligus menjadi kunci seseorang meraih kemenangan, keselamatan dan kedamaian.

Rasulullah SAW disebut pernah berpesan tentang empat amalan yang dapat menjadikan seseorang menjadi penghuni surga. Dalam HR Imam At-Trimidzi disebutkan, "Wahai manusia tebarkan salam, berilah makan, sambunglah tali silaturahmi dan shalatlah di malam hari saat manusia tertidur, niscaya kalian akan masuk ke dalam Surga dengan selamat".

"Saya kira, empat hal ini menjadi sesuatu yang sangat penting untuk mengisi hari Kemenangan," lanjutnya.

Adapun dahulu, Hari Raya Idul Fitri kali pertama digelar pada tahun ke-2 Hijriyah, usai perang Badar. Ada banyak riwayat yang menginformasikan tentang bagaimana Rasulullah dan para sahabat merayaka Idulfitri.

Salah satunya, mengumandangkan takbir pada malam di hari terakhir Ramadan sampai pagi hari pada 1 Syawal. Cara ini sesuai pesan Alquran surat Al-Baqarah ayat185,  "Dan hendaklah kamu sempurnakan bilangan puasa serta bertakbir (membesarkan nama Allah) atas petunjuk yang telah diberikan-nya kepadamu. Semoga dengan demikian kamu menjadi umat yang bersyukur".

Hal lainnya, Rasulullah SAW mandi, memakai wangi-wangian dan mengenakan pakaian terbaik yang dimilikinya saat menyambut hari kemenangan, sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Al Hakim.

"Pakaian terbaik itu tidak harus baru tentunya. Yang penting suci, bersih dan menutup aurat," ujar Kiai Zainut.

Selanjutnya, dalam hadist dijelaskan Nabi tidak berangkat ke tempat salat sebelum makan beberapa buah kurma dengan jumlah yang ganjil. Ini sekaligus menjadi penanda hari itu sudah tidak berpuasa, sebab salah satu hari yang diharamkan berpuasa adalah Hari Raya Idulfitri.

Rasulullah SAW juga menunaikan salat Ied bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya. Rasulullah memilih rute jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang dari tempat diadakannya salat Id.

Terakhir, di hari istimewa ini Rasulullah mengunjungi rumah para sahabatnya, begitu pun para sahabatnya. Mereka saling mendoakan satu dengan lainnya.

Ketua Dewan Syuro Rabithah Alawiyah, Zen Umar Sumaith, pun memaparkan datangnya bulan Ramadhan merupakan anugerah yang sangat besar bagi hamba Allah SWT yang bertakwa. Di dalamnya terdapat banyak kesitimewaan, seperti diturunkannya Alquran dan malam-malam yang paling ijabah untuk bermunajat dan berdoa.

"Karena itu, hendaknya kita menjalankan ibadah puasa dengan niat lahir dan batin. Jangan sampai puasa kita hanya bersifat lahiriyah saja," ujarnya.

Ibadah puasa disebut sebagai ibadah yang sangat personal antara makhluk dengan Sang Khalik. Setiap umat-Nya diwajibkan puasa untuk melatih diri mengekang hawa nafsu, bukan hanya lapar dan haus, tetapi juga terhadap perbuatan dosa, perkataan kotor, ghibah, namimah.

Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh HR Athabrani disampaikan, "Berapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan apapun dari puasanya tersebut kecuali lapar dan dahaga". Habib Zen menyebut hal ini terjadi karena masih banyak yang tidak mampu mengekang hawa nafsu yang lain.

Dalam sebuah hadist qudsi disebutkan, "Puasa adalah ibadah untuk-Ku dan Aku yang akan menentukan pahalanya". Maka, disinilah ketaatan makhluk diuji oleh Allah SWT.

"Demikian besar pahala yang diberikan tetapi kurang disadari oleh manusia. Hendaknya di dalam bulan puasa ini diisi dengan ibadah, memperbanyak membaca Alquran, bersedekah, tarawih yang semuanya itu dilipat gandakan pahalanya," lanjutnya.

Ketika ibadah puasa ini lantas ditutup dengan merayakan Idul Fitri, maka umat Muslim sudah mendapatkan kemenangan (faizin) dalam arti yang sebenarnya. Bulan Ramadhan merupakan momen untuk melatih menahan hawa nafsu yang harus terus berlanjut agar menjadi hamba yang betul-betul bertakwa.

Terkait perayaan Idul Fitri yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabat, ia menyebut hal ini dilakukan dengan cara yang sederhana namun penuh dengan kekhusyukan. Hal ini terjadi karena selama Bulan Suci dihabiskan bukan hanya dengan puasa lahiriyah, sehingga makna kemenangan menjadi semakin nyata, mampu melawan hawa nafsu.

"Imbauan kepada umat Islam, mari kita songsong bulan Ramadhan dengan hati yang gembira, siapkan mental agar kita beribadah secara lahir dan batin, memahami substansi ibadah yang sangat personal ini," ucap Habib Zen.

Bulan Ramadhan dibagi menjadi tiga bagian, dimana awalnya adalah Rahmah, pertengahannya ada maghfirah (ampunan) dan akhir penutupnya adalah selamat dari api neraka.

Ia lantas mengajak setiap umat untuk bersyukur masih diberi umur panjang menjalankan puasa Ramadhan tahun ini, sebagai nikmat yang luar biasa bagi seorang hamba untuk kembali kejalan Allah SWT.  

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X