Pemerintah Gunakan Hisab dan Rukyat dalam Penetapan 1 Ramadhan 1443 H

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Muhammad Hafil

 Jumat 01 Apr 2022 21:58 WIB

 Pemerintah Gunakan Hisab dan Rukyat dalam Penetapan 1 Ramadhan 1443 H. Foto: Santri melakukan pemantauan hilal di Masjid Al-Musyari Foto: Republika/Thoudy Badai Pemerintah Gunakan Hisab dan Rukyat dalam Penetapan 1 Ramadhan 1443 H. Foto: Santri melakukan pemantauan hilal di Masjid Al-Musyari

Hisab dan rukyat digunakan dalam penetapan Ramadhan 1443 H.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Agama Yaqut Cholil Quomas menyampaikan, penetapan 1 Ramadhan 1443 Hijriyah pada Ahad 3 April didasarkan pada dua metode, yaitu hisab dan rukyat. Dia mengatakan, dua metode ini penting dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

"Dalam melaksanakan sidang itsbat, Kementerian Agama selalu menggunakan dua metode, yang selama ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan satu dengan yang lain yaitu hisab atau dengan cara perhitungan dan metode kedua yaitu rukyat atau melihat langsung keberadaan hilal," kata dia dalam konferensi pers hasil sidang itsbat di Jakarta secara daring dan luring, Jumat (1/4).

Baca Juga

Menag Yaqut menuturkan, dua metode tersebut bukan dua metode yang diperhadapkan atau dipertentangkan. Keduanya adalah metode yang saling melengkapi karena keduanya sama pentingnya.

"Seorang perukyat itu harus menguasai hisab, karena tanpa hisab dia tidak bisa merukyat dengan baik. Begitu juga hisab, sebagai sebuah hal yang sifatnya informatif, tentang posisi ketinggian hilal maka harus dirukyat," ujarnya.

Sidang itsbat diawali dengan pemaparan hilal yang disampaikan menjelang Maghrib oleh salah satu anggota Tim Unifikasi Kalender Islam Thomas Djamaluddin. Thomas menyampaikan, ketinggian hilal di seluruh Indonesia pada posisi 1 derajat 6,78 menit sampai 2 derajat 10,02 menit.

"Ini adalah posisi hilal berdasarkan hisab, sebuah metode untuk mengetahui posisi ketinggian hilal sehingga apakah dimungkinkan hilal itu bisa dilihat atau tidak," ujar dia.

Menag juga menyampaikan, ada 101 titik rukyat di 34 provinsi dan dari seluruh titik tersebut melaporkan tidak melihat hilal. Dengan demikian, berdasarkan hisab, posisi hilal seluruh Indonesia sudah di atas ufuk, tetapi belum memenuhi kriteria Mabims baru, yaitu tinggi hilal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat, serta laporan-laporan rukyatul hilal.

"Maka secara mufakat bahwa 1 Ramadhan 1443 jatuh pada hari Ahad 3 April 2022 Masehi. Hasil sidang ini telah disepakati bersama, dan tentu kita berharap seluruh umat Islam Indonesia dapat menjalankan ibadah puasa secara bersama-sama," kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X