Kamis 07 May 2020 09:17 WIB

Lebanon Izinkan Masjid Kembali Gelar Sholat Jumat

Lebanon menutup masjid untuk sholat Jumat sejak 15 Maret lalu.

Rep: Zahrotul Oktaviani/ Red: Nashih Nashrullah
Lebanon menutup masjid untuk sholat Jumat sejak 15 Maret lalu. Relawan pandemi Covid-19 Lebanon (ilustrasi)
Foto: EPA-EFE/WAEL HAMZEH
Lebanon menutup masjid untuk sholat Jumat sejak 15 Maret lalu. Relawan pandemi Covid-19 Lebanon (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT – Menteri Dalam Negeri Lebanon, Mohammed Fahmy, telah mengizinkan pembukaan kembali rumah-rumah ibadah, masjid untuk sholat Jumat dan gereja untuk misa Ahad. Lebanon mulai menutup masjid dan gereja pada 15 Maret.

Keputusan ini dikeluarkan dengan beberapa ketentuan. Salah satunya jumlah jamaah tidak melebihi 30 persen dari kapasitas masing-masing masjid atau gereja dan mematuhi kondisi sanitasi dan langkah-langkah pencegahan.

Baca Juga

Ketentuan ini disebut merupakan bagian dari tindakan mitigasi tindakan isolasi mandiri untuk menahan pandemi Covid-19 di Lebanon. 

Terlepas dari catatan kasus-kasus baru dari orang-orang yang baru kembali ke Lebanon, atau orang-orang yang dikarantina dan memiliki berhubungan dengan orang-orang yang terinfeksi.

Dilansir di Arab News, menurut laporan Kementerian Kesehatan, ada sembilan kasus Covid-19 baru, tujuh di antaranya dari luar negeri. Kementerian kemudian mengumumkan 25 kasus Covid-19 yang dikonfirmasi di antara penumpang dalam penerbangan dari Nigeria ke Beirut, menambah total kasus menjadi 775 orang.

Presiden Michel Aoun mengatakan, Covid-19 meningkatkan penyumbatan arteri ekonomi Lebanon. Pandemi ini juga memperburuk penurunan ekonomi yang diderita karena kebijakan yang mengabaikan produksi ekonomi.

"Virus ini juga meningkatkan angka pengangguran dan kemiskinan. Selain itu ada kenaikan harga komoditas yang signifikan, penurunan nilai tukar pound Lebanon, penurunan pendapatan pajak, dan memburuknya jaminan sosial kita," katanya dikutip di Arab News, Kamis (7/5).

Lebanon mencari bantuan dari Dana Moneter Internasional (IMF) untuk membantu keluar dari krisis ekonomi yang parah. Beberapa indikator krisis yakni, kontraksi ekonomi sekitar 13 persen, peningkatan tingkat inflasi mencapai lebih dari 50 persen, penurunan nilai tukar pound Lebanon, kelumpuhan di sektor perbankan.

Selain itu terjadi peningkatan signifikan akan kemiskinan, yang melebihi 45 persen warga negara. Pengangguran melebihi 35 persen, defisit fiskal yang tinggi, serta utang yang tidak berkelanjutan tinggi, menjadi indikator lainnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement