Turki akan Salurkan Bantuan Ramadhan ke 35 Negara

Rep: Andrian Saputra/ Red: Nashih Nashrullah

 Selasa 21 Apr 2020 06:53 WIB

Turki akan berikan ribuan paket bantuan Ramadhan.  Bendera Turki di Jembatan Martir, Turki Foto: AP Turki akan berikan ribuan paket bantuan Ramadhan. Bendera Turki di Jembatan Martir,...

Turki akan berikan ribuan paket bantuan Ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID, ANKARA – Turki berencana memberikan bantuan kepada penduduk di puluhan negara selama bulan suci Ramadhan. Hal itu seperti disampaikan otoritas keagamaan Turki pada Senin (21/4).

Dalam sebuah konferensi pers, Kepala Kepresidenan Urusan Agama (Diyanet), Ali Erbas, menjelaskan  tentang kebijakan pemerintah selama Ramadhan, termasuk  tugas-tugas keagamaan di tengah pandemi virus corona yang telah merenggut puluhan ribu nyawa di seluruh dunia. 

Baca Juga

Dikutip dari Anadolu Agency, Erbas mengatakan badan keagamaan akan memberikan bantuan kepada orang-orang yang membutuhkan di 35 negara selama Ramadhan. 

Pada 2019 direktorat keagamaan mendistribusikan bantuan ke 98 negara. Tetapi tahun ini, pandemi membuat persediaan logistik menjadi lebih sulit. Sebab itu Turki hanya akan memberikan bantuan kepada 35 negara.  

Erbas mengatakan Direktorat keagamaan Turki akan mendistribusikan 38.450 paket makanan dan 46 ribu paket bantuan lainnya untuk sahur dan buka puasa. Ia juga menambahkan bahwa hampir 11 ribu anak yatim juga akan mendapatkan pakaian.  

Erbas mengata bahwa puasa merupakan tindakan spiritual di mana hati dan pikiran menyatu. Dia menambahkan puasa juga meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan dapat membantu melawan virus.  

Sejauh ini Turki telah mendata hampir 86 ribu kasus virus corona dengan jumlah kematian lebih dari 2.000 orang. Sedangkan lebih dari 12 ribu orang telah pulih sepenuhnya dari penyakit itu dan 1.920 orang memperoleh perawatan di unit perawatan intensif.

Virus corona telah menyebar ke setidaknya 185 negara dan wilayah sejak muncul di Wuhan, Cina Desember lalu. Saat ini Amerika Serikat dan Eropa  yang paling parah terkena dampaknya. 

Menurut data yang Johns Hopkins University yang berbasis di AS, lebih dari 2,4 juta kasus telah dilaporkan di seluruh dunia, dengan jumlah kematian hampir 166 ribu dan lebih dari 632 ribu sembuh.

 

Berita Lainnya