Mencukupi Kebutuhan Nutrsi di Bulan Ramadhan

Rep: Muhyiddin/ Red: Nora Azizah

 Kamis 16 Apr 2020 14:58 WIB

Ramadhan di tengah pandemik akan berbeda, khususnya dalam memenuhi nutrisi tubuh (Foto: ilustrasi Puasa Ramadhan) Foto: Pxhere Ramadhan di tengah pandemik akan berbeda, khususnya dalam memenuhi nutrisi tubuh (Foto: ilustrasi Puasa Ramadhan)

Ramadhan di tengah pandemik akan berbeda, khususnya dalam memenuhi nutrisi tubuh.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tidak lama lagi umat Islam akan menjalani ibadah puasa Ramadhan 1441 Hijriah yang diperkirakan akan dimulai pada 24 April 2020 mendatang. Namun, suasana Ramadhan di tengah wabah Covid-19 kali ini akan berbeda dengan sebelumnya, sehingga umat Islam harus tetap menjaga daya tahan tubuhnya.

Pakar gizi dari Rumah Sakit Haji Pondok Gede,dr Endang Widyastuti mengatakan, sebenarnya dalam keadaan tidak berpuasa pun masyarakat harus tetap menjaga daya tahan tubuhnya di tengah virus Covid-19. Begitu juga di bulan Ramadhan nanti, menurut dia, masyarakat juga harus mencukupi kebutuhan nutrisinya secara maksimal.

“Tidak ada bedanya sebenarnya antara puasa dan tidak puasa, tapi di tengah wabah  Corona ini dibutuhkan nutrisi maksimal,” ujar dr Endang saat dihubungi Republika.co.id, Rabu (15/4).

Dia menjelaskan, setiap orang itu mempunyai kebutuhan asupan makanan yang berbeda-beda. Karena itu, menurut dia, masyarakat harus terlebih dahulu mengetahui jumlah kebutuhan makanan setiap harinya. Untuk mengetahuinya, dia pun menyarankan untuk berkonsultasi dulu ke dokter spesialis gizi.

“Misal, kalau kita ambil rata-rata kebutuhan kalori per hari orang Indonesia itu biasanya sekitar 1500 kalori sampai dengan 2000 kalori. Nah itu harus tercukupi, baik dalam keadaan puasa maupun tidak puasa,” ucapnya.

Menurut dia, pada bulan Ramadhan nanti tentu pola makan orang yang berpuasa akan berubah, yaitu makannya hanya pada waktu sahur, berbuka puasa, dan juga sebelum tidur. Karena itu, menurut dia, orang yang puasa harus pintar mensiasatinya agar daya tahan tubuhnya tetap terjaga di tengah virus Covid-19. 

“Kalau kita tidak bagus mensiasatinya itu bisa-bisa kita kelebihan dan bahkan bisa kekurangan sama sekali. Dan jika kekurangan, walaupun tidak ada wabah Covid-19 pun juga gak bagus. Begitu juga jika kelebihan,” katanya.

Untuk menyiasatinya, maka dia kembali menegaskan bahwa hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan mencari tahu dulu jumlah kebutuhan nutri atau kalori dalam setiap harinya. Menurut dia, jika menurut doter spesialis gizi kebutuhannya 1500 kalori per hari, maka orang yang akan berpuasa harus mencukupinya.

“Dan kalau pada saat puasa, kita harus mensiasati bagaimana kita mencukupi kebutuhan nutrisi itu dalam sahur, buka dan sebelum tidur. Jadi, dengan begitu sebenarnya diharapkan kita bisa memaksimalkan nutrisi kita, sehingga otomatis kebutuhan imun kita bisa terbentuk,” jelasnya.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...

Berita Lainnya

Play Podcast X