Ziarah Makam, Tradisi Idul Fitri yang Bertahan di Jambi

Red: Nashih Nashrullah

Rabu 05 Jun 2019 23:07 WIB

Ilustrasi ziarah kubur Foto: Republika/Raisan Al Farisi Ilustrasi ziarah kubur

REPUBLIKA.CO.ID, JAMBI— Ziarah ke makam sanak saudara yang telah meninggal dunia merupakan tradisi masyarakat Provinsi Jambi yang sampai saat ini masih terjaga.

Hari pertama Idul Fitri 1440 Hijriyah, ratusan masyarakat memadati pemakaman-pemakaman yang ada di daerah itu hingga menyebabkan kemacetan.

Baca Juga

Seperti di Tempat Pemakaman Umum Al Karomah Jambi, pasca pelaksanaan shalat Idul Fitri, secara berangsur pemakaman itu mulai dipadati masyarakat setempat. Sejumlah masyarakat membawa air serta bunga untuk ditabur di atas pemakaman sanak saudara yang telah meninggal dunia.

“Setiap Idul Fitri kita ziarah ke kubur ini, tidak hanya dihari raya saja namun sebelum memasuki Ramadhan dan Idul Adha kita juga ziarah. Kebetulan ini makam orang tua saya,” kata Yanto, peziarah di pemakaman itu di Jambi, Rabu (5/6).

Tidak banyak ritual yang dilakukan saat berziarah, saat di pemakaman peziarah membaca surah Yaasin, tahlil, dan berdoa serta membersihkan pemakaman kerabat dan sanak saudara jika terlihat semak serta kotor.

Sementara itu, Hairul, peziarah lainnya mengatakan, pada saat Idul Fitri, ida selalu mudik ke kampung halaman. Salah satu alasannya yakni hendak berziarah ke makam kedua orang tuanya yang dimakamkan di pemakaman itu.

“Saya sekarang tinggal di Kabupaten Sarolangun, setiap tahun selalu mudik karena ingin ziarah ke makam orang tua, saat ini hanya doa yang dapat kami panjatkan untuk kedua orang tua yang telah meninggal,” kata Hairul.

Tradisi ziarah kubur tersebut biasanya ramai dilakukan mulai dari H+1 sampai dengan H+3 hari raya. Berlangsung sejak pagi sampai sore sekira pukul 17.00 WIB. Bahkan tidak jarang di luar hari-hari itu masih terdapat sejumlah warga yang datang untuk berziarah ke makam saudara dan kerabatnya.

 

Terpopuler