BMH Berikan Berkah Fitrah Ramadhan untuk Suku Togutil

Red: Irwan Kelana

Senin 03 Jun 2019 15:58 WIB

Mualaf Suku Togutil berfoto bersama usai penyerahan Berkah Fitrah oleh Laznas BMH Perwakilan Maluku Utara. Foto: Dok BMH Mualaf Suku Togutil berfoto bersama usai penyerahan Berkah Fitrah oleh Laznas BMH Perwakilan Maluku Utara.

REPUBLIKA.CO.ID, TERNATE -- Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Perwakilan Maluku Utara menutup rangkaian program Ramadhan 1440 H dengan penyaluran zakat fitrah kepada mualaf pedalaman Suku Togutil. Kegiatan yang dinamakan Berkah Fitrah Ramadhan itu  dipusatkan di Pondok Pesantren Hidayatullah Kalumata, Ternate, Maluku Utara (Malut), Ahad (2/6).

 “Zakat fitrah  ini merupakan  amanah para muzaki yang ditipkan kepada BMH Malut berupa zakat fitrah untuk masyarakat dan mualaf Suku Togutil,” terang Kepala BMH Perwakilan Maluku Utara, Arif Ismail dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Senin (3/6).

Ia mengemukakan, para mualaf Suku Togutil itu  sengaja di bawa ke Ternate agar mereka dapat mempelajari secara langsung syiar ajaran Islam di bulan Ramadhan.  Termasuk di dalamnya, pelaksanaan shalat Hari Raya Idul Fitri. “Jadi mereka memang kita bawa ke Ternate untuk pengenalan lebih lanjut mengenai syiar Islam,” ujarnya. 

Diakuinya,  perjuangan mualaf Suku Togutil untuk sampai ke Kota Ternate sangatlah berat. Mereka harus menyeberangi lautan dengan kapal selama satu malam dalam keadaan cuara laut kurang baik. 

“Untunglah mereka baik-baik saja sampai ke Tobelo, kemudian dilanjutkan  menggunakan perjalanan darat menuju Sofifi selama 5 jam. Setelah itu mengarungi lautan lagi dengan speed boat selama 1 jam menuju Ternate dalam keadaan keadaan tetap berpuasa,” imbuh Arif.

Kehadiran mualaf Suku Togutil di  Ternate, tepatnya di Pesantren Hidayatullah,  memberikan kesan tersendiri bagi mereka. Para mualaf itu mengaku sangat bersyukur. 

“Terima kasih BMH, atas berkah fitrahnya. Rencananya sembako ini kami akan buat makanan lebaran. Sedangkan uang tunai untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sisanya kami simpan,” ungkap Mama Piloko (43 tahun), mualaf Suku Togutil yang sudah bisa berbahasa Indonesia.

 

Terpopuler