Mudik Lewat Cirebon, Jangan Lupa Cicipi 5 Makanan Khasnya

Rep: fuji permana/ Red: Andi Nur Aminah

 Rabu 29 May 2019 23:47 WIB

Empal Gentong Haji Apud. Foto: Republika/Fergi Nadira Empal Gentong Haji Apud.

Empal gentong dan sega jamblang yang paling populer.

REPUBLIKA.CO.ID, CIREBON -- Siapa yang tidak kenal Cirebon di Provinsi Jawa Barat yang dikenal dengan sebutan kota udang dan kota wali. Setidaknya ada lima makanan khas Cirebon yang cukup populer dan digandrungi para pemudik dan wisatawan.

Makanan khas tersebut di antaranya empal gentong, sega (nasi) jamblang, nasi lengko, tahu gejrot, dan mi koclok. Di antara lima makanan khas Cirebon itu, empal gentong dan sega jamblang yang paling populer.

Baca Juga

Saat pemudik melintasi wilayah Cirebon, dengan bantuan google bisa dengan mudah menemukan tempat makan empal gentong dan sega jamblang. Paling tepat jika melintasi Cirebon di waktu buka puasa. Agar bisa berbuka dengan aneka makanan khas kota wali.

Wadi (35 tahun) pemilik warung makan Empal Gentong Mang Darma di Jalan Slamet Riyadi, Kota Cirebon menuturkan, tidak sulit mencari penjual empal gentong dan sega jamblang di Cirebon. Menurutnya yang cukup terkenal Empal Gentong Mang Darma dan Empal Gentong Haji Apud.

"Yang sedang mudik atau berwisata kemudian lewat Cirebon, silakan bisa mampir makan empal gentong atau sega jamblang dan makanan khas Cirebon lainnya," kata Wadi kepada Republika.co.id, Rabu (29/5) malam.

Pria yang sudah berjualan empal gentong selama tujuh tahun itu mengatakan, di daerah lain ada soto dan gulai, di Cirebon ada empal gentong. Bahan baku utama empal gentong yaki daging sapi, bumbunya hampir mirip seperti bumbu gulai tapi menggunakan daun kucai yang banyak tumbuh di Cirebon.

Wadi juga menceritakan kenapa disebut empal gentong. Sebab empal gentong di masak dalam gentong yang terbuat dari tanah liat dengan menggunakan tungku. Sehingga empal gentong memiliki cita rasa yang khas karena dimasak dengan cara yang lama.

"Di tempat saya, harga semangkuk empal gentong dijual dengan harga Rp 20 ribu, kalau ditambah nasi atau lontong jadi Rp 25 ribu," ujarnya.

Wadi mengungkapkan, rumah makan mililnya selalu kebanjiran pelanggan saat musim arua mudik dan arus balik. Pelanggan di hari-hari bisa mencapai 100 hingga 200 orang, tapi saat musim arus mudik dan arus balik bisa mencapai 400 hingga 500 orang. Pelanggan keluar masuk bergantian untuk mencicipi empal gentong.

Menurutnya, makanan khas (kuliner) tidak terdampak kondisi perekonomian para pemudik yang sedang naik atau turun. Sebab setiap tahun saat arus mudik dan arus balik selalu kebanjiran pelanggan.

"Kondisi ekonomi lagi naik atau turun enggak ada hubungannya, kuliner tetap laku saja. Ada orang sedang mudik mampir ke sini sambil istirahat sambil makan empal gentong," ujarnya.

 

Silakan akses epaper Republika di sini Epaper Republika ...

Berita Lainnya

Play Podcast X