Menanti Lailatul Qadar

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Agung Sasongko

Selasa 28 May 2019 16:00 WIB

Ilustrasi Ramadhan Foto: Pixabay Ilustrasi Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dosen Institut Ummul Quro Al-Islami (IUQI) Bogor, Ustaz Hasan Basri Tanjung menuturkan, bahwa Alquran pada malam Lailatul qadar diturunkan di malam ganjil pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Ia mengatakan, Lailatul qadar tidak terjadi pada malam di awal Ramadhan karena malam demikian adalah tamu mulia.

Karena itu, orang yang pantas mendapatnya adalag orang-orang yang mulia, yang sejak awal bahkan sebelum Ramadhan sudah siap dan menunggu kedatangannya dengan beragam ibadah, baik ritual maupun sosial.

Baca Juga

Kendati dianjurkan untuk menanti Lailatul qadar di malam ganjil, tetapi sebagai tamu agung, ia tahu persis siapa yang sudah menantinya. Dikatakannya, bahwa ada kontak batin sebelumnya antara Lailatul qadar dengan orang yang dimuliakan.

"Karenanya, boleh jadi berbondong-bondong orang menyambut tamu agung di pinggir jalan, namun ia melewatinya lalu menuju rumah seseorang yang sedang tertidur lelap. Itulah rahasia Illahi. Bukan berarti terjaga akan meraihnya, karena hatinya belum bersih," lanjutnya.

Sekiranya seseorang merasa telah meraihnya pun, ia mengatakan hal demikian tidak patut untuk diceritakan apalagi dibanggakan. Sebab, menurutnya, karunia Allah berupa meraih lailatul qadar itu bukanlah material melainkan spiritual.

Kendati demikian, hal yang penting dari hikmah Lailatul qadar ini adalah dampak positif yang ditimbulkannya, yakni semakin meningkat amal kebajikannya setelah itu. Orang yang berusaha dan telah meraihnya, akan semakin dekat dengan Allah, dengan manusia dan merawat keindahan alam semesta.

"Selain itu, orang tersebut akan mendatangkan keselamatan dan kedamaian serta keharmonisan sosial dan spiritualnya. Allahu a'lam bish shawab," tambahnya.

Terpopuler