Pegawai Muslim Amazon Mengeluh Sulit Shalat, Berbuka Puasa

Rep: M Riza Wahyu Pratama/ Red: Reiny Dwinanda

Sabtu 18 May 2019 11:30 WIB

Amazon.com Foto: EPA Amazon.com

REPUBLIKA.CO.ID, SEATTLE — Berdasarkan laporan yang diterima Pemerintah Federal, tiga perempuan Somalia yang bekerja di Amazon mengeluhkan bahwa perusahaan telah menciptakan iklim yang bertentangan dengan kebutuhan pekerja Muslim. Selain itu, mereka melaporkan perusahaan karena telah melakukan balas dendam akibat protes yang mereka sampaikan.

Ketiga Muslimah tersebut mengatakan, mereka takut untuk mengambil waktu istirahatnya untuk shalat, buka puasa, atau ke kamar kecil. Mereka khawatir itu akan dijadikan alasan untuk memecat mereka.

Dilansir Business Insider, kasus ini diangkat ke publik pertama kali oleh The New York Times. Menurut laporan yang diajukan ketiga Muslimah keturunan Somalia itu, gudang tempat mereka bekerja tak berpendingin ruangan hingga membuat sukar bagi pekerja Muslim Amazon untuk menunaikan puasa Ramadhan sambil terus mencapai target yang ditetapkan kantornya.

Dalam sebuah surat, pengacara Muslim dari ketiga perempuan tersebut meminta, Komisi Kesetaraan Kesempatan Kerja (EEOC) untuk menyelidiki "pelanggaran sistemik" dari Undang-Undang Hak Sipil tahun 1964. Undang-undang tersebut melarang diskriminasi kerja berdasarkan agama.

Keluhan terhadap pemerintah federal adalah bukti bahwa masalah tersebut semakin pelik. Perselisihan antara Amazon dan pekerja Afrika Timur telah terjadi pada tahun lalu. Wilayah dekat Minneapolis tersebut dikenal memiliki serikat karyawan gudang Amazon paling terorganisir.

"Kami pikir investigasi EEOC adalah bagian awal yang penting dalam proses menuntut pertanggungjawaban Amazon," kata seorang pengacara, Nimra Azmi, sebagaimana dilansir The New York Times pada Rabu (8/5).

Juru bicara Amazon, Brenda Alfred menolak untuk mengomentari komplain tersebut secara spesifik. Ia hanya mengatakan, keberagaman dan keterbukaan adalah prinsip utama dalam bisnis dan budaya perusahaan. Tiap pekerja dapat berdoa dimana pun.

"Kami menghormati privasi masing-masing pekerjam tapi jangan membicarakan keluhan secara terbuka," katanya.

Pada 2016, ketika membuka rekrutmen di Shakopee, sebuah pinggiran kota Minneapolis, Amazon merekrut banyak orang dari populasi imigran di kawasan itu. Oleh karenanya, kawasan tersebut dikenal sebagai "Little Mogadishu".

Organisasi nirlaba Awood Center membantu pekerja Afrika Timur mengelola masalah ritme kerja, kesempatan untuk beribadah, termasuk kesempatan berkarier di bagian manajemen. Operasional Awood berasal dari hibah organisasi pekerja, Service Employees International Union.

Peningkatan serangkaian tindakan pada tahun lalu telah membuat mereka menjadi serikat pekerja pertama di Amerika Serikat yang mampu bernegosiasi dengan manajemen Amazon. Pada bulan Desember, sebuah kelompok melakukan protes di luar salah satu gudang. Pers lokal melaporkan bahwa aksi protes tersebut dihadiri 100 orang. Sedangkan pada bulan Maret, kelompok yang lebih kecil melakukan aksi berjalan secara bergiliran selama beberapa jam.

Pengacara muslim mengatakan, masalah itu telah diperhatikan oleh Awood sejak musim panas yang lalu. Awood kemudian memeriksa apakah terdapat permasalahan hukum yang lain.

Dalam surat ringkasan klaim mereka, pekerja perempuan mengatakan, mereka telah mendapatkan pembalasan dari perusahaan sejak mereka terlibat dalam protes Desember 2018. Para pekerja mengatakan, mereka menerima penugasan kerja yang sulit yang tidak sewajarnya yang dapat mengakibatkan pemecatan.

"Amazon juga memiliki budaya pengawasan pasca protes karyawan," kata Azmi.

Pengacara Muslim telah menyembunyikan nama-nama pekerja perempuan yang membuat laporan. Ia mengatakan, mereka takut akan pembalasan lebih lanjut. Namun, salah satu wanita setuju untuk diwawancarai dengan syarat anonim.

Dalam wawancara, pekerja itu mengatakan, dia telah melihat manajernya mengamati media sosial milik peserta aksi protes. Manajernya berkomentar bahwa ia melihatnya ikut serta berpartisipasi.

Di lain waktu, manajer yang berbeda mengambil fotonya menggunakan telepon pribadi saat sedang bekerja. Manajernya mengatakan, ketika dia mengeluh, manajemen akan mengurangi perhatiannya.

Berdasarkan surat tersebut, salah satu perempuan mengatakan, berulang kali ia direkam oleh pengawasnya saat berbincang-bincang.

"Tidak ada toleransi untuk balas dendam di tempat kerja. Kami menganggap serius mengenai laporan terkait aksi pembalasan yang diberikan oleh karyawan kami," kata Alfred.

Amazon memberi waktu istirahat untuk berdoa sekitar 20 menit, sesuai dengan hukum negara. Tetapi karyawan harus bertanggung jawab untuk mempertahankan jumlah banyak barang yang harus mereka bungkus dalam satu jam.

Alfred mengatakan, para pekerja dapat mengambil waktu shalat lebih lama tanpa bayaran kemudian produktivitasnya akan disesuaikan. Kehilangan hitungan jam kerja akan mengakibatkan pencopotan. Pekerja perempuan mengatakan, mereka dan Muslim lainnya khawatir saat mengambil waktu shalat. Lingkungan itu membuat Muslim tidak nyaman.

Selanjutnya, Alfred mengatakan, perusahaan telah mengakomodasi ibadah saat Ramadhan, khususnya soal puasa. Amazon telah berkonsultasi dengan para pekerja Muslim dan manajer soal lingkungan yang aman untuk berpuasa. Para pekerja dapat menukar jam kerjanya pada malam hari. Mereka dapat membawa makanan untuk buka puasa bersama.

Para pekerja mengatakan, salah satu tekanan yang selalu dialami adalah mengejar banyak target laba ketika pertumbuhan perusahaan melambat. Dalam kuartal terakhir, perusahaan menerima empat persen pesanan lebih kecil daripada penerimaan tahun lalu. Di sisi lain, jumlah unit perusahaan telah terjual 10 persen.

Kepala Urusan Keuangan Amazon, Brian Olsavsky mengatakan kepada investor bahwa Amazon mempekerjakan lebih sedikit pekerja karena memprioritaskan penambahan gudang dalam beberapa tahun terakhir.

"Saat ini, kami berada di keadaan yang baik, di mana kami berada pada kapasitas terbaik yang kami miliki," katanya.

Terpopuler