Komunitas Punk Hijrah Bagi-Bagi Iftar Tiap Hari di Jalanan

Rep: Fuji Eka Permana/ Red: Hasanul Rizqa

Jumat 17 May 2019 13:56 WIB

Sejumlah anggota komunitas Punkajian membagikan makanan berbuka puasa untuk masyarakat di Bekasi, Jawa Barat, Ahad (12/5). Foto: Fakhri Hermansyah Sejumlah anggota komunitas Punkajian membagikan makanan berbuka puasa untuk masyarakat di Bekasi, Jawa Barat, Ahad (12/5).

REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI -- Komunitas Punkajian Bekasi memanfaatkan momen bulan suci Ramadhan untuk pelbagai upaya kebaikan. Salah satunya, tiap menjelang azan maghrib para aktivis komunitas itu membagi-bagikan sajian berbuka puasa (iftar) di Jalan Ir H Juanda, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Ketua Komunitas Punkajian Bekasi Miki Abu Izam, menuturkan, tiap sore pihaknya mendistribusikan sekitar 150 paket makanan dan minuman. Dia menjelaskan, kegiatan ini dilakukan selama bulan Ramadhan. Mereka menyasar orang-orang yang sedang dalam perjalanan ketika waktu berbuka puasa tiba.

Baca Juga

"Kami membagikan makanan biasanya 10 menit sebelum buka puasa karena sasarannya pengendara di jalan yang butuh makanan untuk membatalkan puasa atau berbuka puasa," kata Miki Abu Izam kepada Republika.co.id, Jumat (17/5).

Biasanya, mereka yang masih di jalan kala azan maghrib itu adalah orang-orang yang sedang pulang kerja. Selain itu, tutur Miki, banyak pula pengemudi ojek daring (online) yang masih mencari atau mengantarkan penumpang kala matahari terbenam. Sebagai kaum Muslimin, mereka semua tentunya perlu menyegerakan buka puasa begitu azan maghrib berkumandang.

photo
Sejumlah anggota komunitas Punkajian melakukan persiapan sebelum membagikan makanan berbuka puasa untuk masyarakat di Bekasi, Jawa Barat, Ahad (12/5).

 

Berbagi Kebahagiaan

Miki mengungkapkan, kegiatan ini menjadi kebahagiaan tersendiri tak hanya untuk Komunitas Punkajian. Banyak pengemudi ojek yang merasa senang dengan adanya bagi-bagi iftar di jalanan.

Meski makanan yang disampaikan sekedar membatalkan puasa, senyum tulus dari pihak yang memberi dan menerima menjadi penenteram hati. Miki mengatakan, sajian yang biasa dibagi-bagi pihaknya dalam hal ini cukup beragam. Sebut saja, lontong, mi, dan gorengan--karena banyak yang menyukai gorengan, katanya. Ada juga sajian tambahan, semisal kurma, jus, sop buah dan tentunya air mineral.

"Komunitas Punkajian sengaja menyiapkan menu tambahan agar menu iftar yang dibagikannya bervariasi dan tidak membosankan," ujarnya.

Miki menyampaikan, kegiatan bagi-bagi iftar selama Ramadhan merupakan kelanjutan dari aksi rutin tiap Jumat, yakni bagi-bagi makanan di masjid setelah shalat Jumat.

Jika pada pekan keempat di bulan Ramadhan jalanan sudah sepi, menurut dia, anak-anak punk di Komunitas Punkajian akan membagikan iftar ke masjid-masjid yang menyelenggarakan itikaf.

photo
Sejumlah anggota komunitas Punkajian membagikan makanan berbuka puasa untuk masyarakat di Bekasi, Jawa Barat, Ahad (12/5).

 

Kerja Kolaborasi

Punkajian Bekasi tidak bekerja sendirian. Pihaknya berkolaborasi dengan komunitas lain yang anggotanya terbilang berkecukupan. Pada intinya, lanjut Miki, tiap anggota dari masing-masing komunitas ingin berbagi sama-sama. Mereka menyisihkan harta, tenaga, waktu, dan gagasan untuk menggiatkan sedekah di kala bulan suci Ramadhan.

"Mereka ingin berbagi. Daripada uang digunakan untuk hura-hura. Jadi mereka yang mencari dan menyediakan dana, kita (Punkajian Bekasi) yang membuat makanan dan membagikannya," jelasnya.

Miki mengungkapkan, aksi sosial semacam ini juga bermanfaat bagi kalangan anak-anak punk yang sudah hijrah. Kegiatan ini dapat memberdayakan potensi ekonomi mereka. Beberapa di antaranya sudah membuka usaha kuliner atau berdagang.

"Setiap hari rata-rata empat anak-anak punk yang membagikan iftar, meski sedikit tapi konsisten dan rutin. Kalau ada dua orang atau tiga orang, tetap jalan kegiatannya. Saya sendiri berdagang, jadi santai bisa mengatur waktu sendiri," kata Miki.

photo
Sejumlah anggota komunitas Punkajian membagikan makanan berbuka puasa untuk masyarakat di Bekasi, Jawa Barat, Ahad (12/5).

Melalui kegiatan tersebut, komunitas Punkajian Bekasi ingin menunjukkan kepada publik, anak-anak punk yang telah hijrah bisa menjadi baik. Selama ini, kalangan punk kerap mendapatkan stigma negatif dari masyarakat. Dengan adanya aksi solidaritas semacam ini, lanjut Miki, mereka ingin menghilangkan citra negatif.

Masyarakat pun, menurut dia, disarankan untuk tak cepat menghakimi anak-anak punk. Mereka sesungguhnya mesti dirangkul agar menjadi pribadi yang lebih baik. Untuk menularkan kebaikan atau mengajak berbuat baik, harus dengan cara merangkul dan mengajari, bukan menghakimi.

Terpopuler