Buka dan Sahur Pakai Gorengan, Idealnya tak Tiap Hari

Rep: Santi Sopia/ Red: Indira Rezkisari

Jumat 17 May 2019 09:12 WIB

Gorengan, makanan yang digemari untuk berbuka puasa. Foto: Republika/Indira Rezkisari Gorengan, makanan yang digemari untuk berbuka puasa.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebagian orang mungkin kesulitan menahan godaan memakan gorengan saat sahur maupun berbuka puasa. Apalagi kebiasaan orang Indonesia yang memang kebanyakan mengonsumsi gorengan sehari-hari.

Ahli Gizi, Emillia Achmadi, mengatakan jangan sampai kebiasaan itu menghilangkam esensi manfaat berpuasa yaitu detoksifikasi alias membuang racun dalam tubuh. Karena kebiasaan masyarakat yang mengonsumsi gorengan dan menggunakan minyak goreng kurang baik, maka bisa memicu segala jenis penyakit tidak menular, seperti halnya kolesterol, jantung.

Baca Juga

Bukan berarti tidak pilihan untuk makan makanan yang digoreng secara lebih sehat. Caranya, ujar Emillia, adalah dengan memilih minyak yang baik untuk kesehatan.

"Lebih pintar pakai bahan mentahnya termasuk minyak goreng. Idealnya juga makan yang digoreng tidak perlu tiap hari," katanya di Jakarta, Kamis (16/5).

Salah satu lemak baik adalah olive oil atau minyak zaitun. Emillia menjelaskan, saat dikonsumsi dalam jumlah sedang, lemak baik membuat kenyang dan tidak membahayakan tubuh. Hidangan yang dimasak dengan lemak sehat seperti minyak zaitun mampu untuk menurunkan lipoprotein densitas rendah, kalesterol LDL yang dikenal sebagai lemak jahat.

Penggunaan minyak zaitu bisa meminimalkan risiko penyakit jantung dan menurunkan kadar kolesterol jahat dalam darah. Selain itu bahan minyak zaitun alami bebas kolesterol dan tidak mengandung garam sehingga jadi sumber antioksidan.

Dia juga menambahkan fokus puasa itu bukan berbuka, melainkan  saat sahur. Komposisi sahur harus memenuhi empat komponen, antara lain, sayuran, karbohidrat, protein dan air putih.

Sedangkan berbuka lebih baik memilik secangkir teh manis, buah, kurma, jangan dulu konsumsi yang mengandung es. Kebanyakan orang langsung menyantap makanan berat atau mengonsumsi segala jenis makanan.

"Jangan es blewah, biar lambung tidak kaget, disiapkan dulu lambungnya. Dan makan besar itu setelah tarawih, nanti es blewahnya boleh setelah tarawih," tuturnya.

Terpopuler