Niat Puasa Ramadhan, Apa Perlu Diucapkan?

Red: Hasanul Rizqa

Jumat 03 May 2019 18:29 WIB

Ilustrasi Ramadhan Foto: Pixabay Ilustrasi Ramadhan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seperti halnya ibadah-ibadah lainnya, puasa dalam bulan Ramadhan juga harus didahului dengan niat. Secara syariat, puasa (shiyam) adalah "menahan diri dari makan, minum, berhubungan seksual suami-istri, dan segala yang membatalkan puasa, yakni sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari dengan niat karena Allah."

Keharusan niat berpuasa itu berdasarkan dalil-dalil. Di antaranya adalah firman Allah SWT dalam surah al-Bayyinah ayat lima. Artinya, "Padahal, mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus."

Baca Juga

Kemudian, hadis Rasulullah Muhammad SAW. Selengkapnya adalah, "Dari Umar radhiyallahu anh, diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya semua perbuatan ibadah harus dengan niat, dan setiap orang tergantung kepada niatnya.'" Hadis itu ditakhrijkan oleh Imam Bukhari dalam Kitab al-Iman.

Pentingnya niat dalam konteks puasa wajib juga ditegaskan sabda beliau Shalallahu 'alaihi Wasallam.

"Dari Hafshah Ummul Mu’minin RA, diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, 'Barang siapa tidak berniat puasa di malam hari sebelum fajar, maka tidak sah puasanya.'"

Sementara itu, lafazh niat yang marak diperdengarkan di Tanah Air selama malam-malam Ramadhan adalah sebagai berikut.

 

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى

Artinya: "Saya niat berpuasa pada keesokan hari untuk menunaikan kewajiban pada bulan Ramadhan tahun ini karena Allah Ta'ala."

Hanya saja, satu yang perlu diketahui. Mengucapkan niat bukanlah perkara yang harus adanya. Sebab, niat terletak di dalam hati. Maka dari itu, sekalipun Anda keliru melafalkan teks tersebut pada waktu yang telah ditentukan, tak apa-apa. Puasa Ramadhan Anda tetap sah.

Adapun tentang kapan niat itu diikrarkan dalam hati, ada banyak pendapat.

Tentang sifat niat puasa Ramadhan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah berkata, "Setiap orang yang tahu bahwa keesokan harinya adalah awal Ramadhan dan ia (dalam hatinya) berkeinginan untuk berpuasa besoknya, maka sudah dianggap sebagai niat. Dan ini merupakan amalan seluruh kaum Muslimin."

Berbeda dengan puasa wajib Ramadhan, puasa sunah boleh diniatkan kapan pun selama belum masuk waktu zawal, yakni waktu saat matahari tepat berada di atas kepala (kira-kira 15 menit sebelum azan zuhur). Syaratnya, pada pagi hari itu seseorang belum makan atau minum sejak waktu fajar. Hal ini sudah menjadi kebiasaan Nabi Muhammad SAW.

 

Terpopuler