Tradisi Membangunkan Sahur di Nusantara

Red: Agung Sasongko

Sabtu 20 Apr 2019 06:06 WIB

'Mesaharaty' (petugas yang membangunkan warga untuk bersahur) membangunkan warga Casbah di Kota Tua Hebron - Tepi Barat. Mereka menabuh alat musik perkusi dan tetabuhan lain membangunkan warga selama Ramadhan. Foto: ABED AL HASHLAMOUN/EPA EFE 'Mesaharaty' (petugas yang membangunkan warga untuk bersahur) membangunkan warga Casbah di Kota Tua Hebron - Tepi Barat. Mereka menabuh alat musik perkusi dan tetabuhan lain membangunkan warga selama Ramadhan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Makan sahur sering kali disebut-sebut merupakan salah satu hal utama dalam berpuasa. Wajar bila sebelum berpuasa esoknya, orang berupaya sedapat mungkin untuk menyantap sahur di dini hari Ramadhan.

Pada zaman modern, tak sulit untuk bangun malam. Weker tinggal diputar, sementara televisi pun menyiarkan acara hingga larut malam, tak jarang hingga dini hari. Sementara itu, pada perangkat seluler yang kini berada di tangan hampir setiap orang, alarm yang akan membangunkan kita dari mimpi pun tinggal disetel.

Semua itu tak ada di masa lalu, bahkan pada kurun waktu tak lebih dari dekade lalu sekali pun. Untunglah selalu ada cara orang sesuai zamannya agar mereka tak terlambat dicegat imsak. Salah satunya dengan membangunkan warga untuk sahur. Tradisi itu, di beberapa tempat, masih terpelihara.

Di wilayah pantai utara Jawa (pantura), warga menyebut tradisi membangunkan penduduk untuk sahur itu disebut komprekan. Di Kabupaten Majalengka, istilah itu berubah menjadi ngoprek. Yang agak mengherankan, meski secara geografis berdekatan, orang-orang di Cirebon menyebutnya obrok-burok. Sementara itu, di Jatim, hal serupa disebut tektekan dan dekdukan untuk Semarang. Tak hanya di Jawa. Di Gorontalo, ada tradisi serupa yang disebut tumbilotohe.

Namun, meski memiliki nama berbeda, tradisi itu memiliki kesamaan, yaitu bertujuan membangunkan masyarakat agar tidak melewatkan sahur. Caranya juga sama, membunyikan bunyi-bunyian. Bila dilakukan orang dewasa, caranya lebih tertata baik.

Ada perangkat musik yang dibawa dan ditabuh dengan lagu-lagu yang termainkan baik, sementara bila pelakunya anak-anak-di daerah tertentu mereka biasanya bermalam di surau, tak perlu tabuhan khusus. Kaleng kosong, botol air minum kemasan ukuran galon, kecrek yang dibuat dari kumpulan tutup botol yang digepengkan bisa menjadi alat musik. Lainnya, tergantung kreativitas.     

Di Jakarta, warga Betawi memiliki tradisi untuk membangunkan orang sahur. Yang menarik, meski bentuknya sama, setiap wilayah menyebut tradisi itu dengan nama berbeda. Untuk masyarakat Betawi Joglo, Palmerah, Rawabelong, Condet, Buncit, hingga ke kawasan Tangerang, cara itu disebut dengan ngarak beduk, sedangkan warga Betawi yang bermukim di daerah timur Jakarta, seperti Bekasi, sering menyebutnya dengan beduk saur.

Ngarak beduk atau beduk saur telah dilakukan sejak lama. Dengan wilayah yang masih banyak berhutan, bunyi beduk menjadi penanda tak hanya waktu imsak, tapi juga saat berbuka puasa.

Sempat, karena akulturasi dengan budaya Cina, masyarakat Betawi punya tradisi membangunkan sahur dengan membunyikan petasan. Suaranya yang nyaring dan membuat kaget orang menjadi alasan mengapa petasan digunakan untuk membangunkan sahur. Namun, seiring waktu, juga karena bunyinya yang kurang bersahabat, penggunaan petasan untuk membangunkan sahur pun hilang.

Apalagi, ketika orang memilih untuk lebih serius saat membangunkan sahur, digunakanlah alat musik tradisional, seperti kentungan, rebana, dan genjring, dengan suara beduk tetap sebagai penanda dominan. Apalagi, semua itu kemudian diperindah dengan nyanyian lagu-lagu Betawi.

Di Kuningan, Jawa Barat, ada kebiasaan serupa yang disebut ubrug-ubrug. Biasanya, setiap menjelang puasa, sekelompok pemuda akan membentuk tim terdiri atas 10 orang. Ada pembagian tugas. Ada lima orang yang bertugas menabuh genjring (rebana berkeping gemerincing), dua orang membawa kohkol (kentungan bambu), seorang penabuh beduk, sementara dua lainnya mendorong gerobak tempat beduk berada.

Tradisi itu di beberapa sudut wilayah Kuningan masih tetap bertahan. Mungkin karena perpaduan suara genjring, beduk, dan kohkol yang dipukul harmonis itu menjadi alunan musik tradisonal yang tak hanya berbeda, tapi juga mengasyikkan untuk didengar. Tak jarang orang sengaja keluar rumah untuk melihat iring-iringan dan menikmati musik yang jarang terdengar itu.

Di Salatiga, Jateng, anak-anak dan para pemuda biasanya memilih tidur di langgar. Sekitar pukul dua dini hari, mereka akan bangun. Berbekal alat-alat sederhana, seperti kentungan bambu, besi bekas, beduk, ember bekas, mereka berkeliling kampung. Alat-alat itu yang kemudian akan dipukul, dipadukan, hingga iramanya enak didengar. Warga setempat menyebut tradisi itu percalan.

Sementara itu, di Kalimantan Selatan, para pemuda menikmati Ramadhan dengan menggelar bagarakan sahur. Inilah nama yang lain untuk aktivitas sejenis. Tradisi bagarakan sahur yang sudah berlangsung lama dan turun-temurun itu kini bahkan dilestarikan Pemprov Kalsel dengan menggelar festival bagarakan setiap tahun.

Terpopuler