Kapolri: Skenario Terburuk Arus Mudik di Merak Disiapkan

Rep: Ronggo Astungkoro/ Red: Agung Sasongko

Senin 11 Jun 2018 17:21 WIB

Kapolri Jenderal Tito Karnavian (tengah) didampingi Kapolda Banten Brigjen Sigit Prabowo (kiri) serta rombongan Menko PMK Puan Maharani (tengah) disambut Ketua Tim Pengamanan Pelabuhan Merak AKBP Gunawan (kanan) saat meninjau arus mudik di Pelabuhan Merak, Banten, Senin (11/6). Foto: Antara/Asep Fathulrahman Kapolri Jenderal Tito Karnavian (tengah) didampingi Kapolda Banten Brigjen Sigit Prabowo (kiri) serta rombongan Menko PMK Puan Maharani (tengah) disambut Ketua Tim Pengamanan Pelabuhan Merak AKBP Gunawan (kanan) saat meninjau arus mudik di Pelabuhan Merak, Banten, Senin (11/6).

REPUBLIKA.CO.ID, MERAK -- Kapolri Jenderal Tito Karnavian menuturkan, ada tiga masalah yang kerap terjadi di Merak, Banten, ketika puncak arus mudik terjadi. Karena itu, kepolisian dengan pihak-pihak terkait sudah membuat skenario terburuk apabila hal-hal yang tak diinginkan tersebut terjadi.

"Biasanya ada tiga problem di Merak. Pertama penumpukan pada saat pengangkutan penumpang. Kedua antrean masuk menuju terminal. Ketiga kalau terjadi penumpukan lagi, maka dia antrenya sampai ke jalan tol," ungkap Tito saat meninjau jalur mudik di Pelabuhan Merak, Banten, Senin (11/6).

Ketiga hal itu, kata dia, pada tahun lalu sempat terjadi. Namun, pada akhirnya dapat dikelola dengan baik. Ia menyebutkan, hingga H-5 lebaran ini, ketiga titik tersebut masih belum ditemukan kepadatan yang berarti dan masih relatif lancar arus lalu lintasnya.

"Namun dibanding tahun sebemumnya, baik pejalan kaki, roda dua, maupun roda empat, ini relatif baru 30-an persennya. Kalau truk sudah di atas 60 persen," tuturnya.

Menurut Tito, ada dua kemungkinan mengapa hal tersebut terjadi. Pertama, ada kemungkinan masyarakat beralih menggunakan moda transportasi lain, yakni pesawat. Kemungkinan kedua, arus puncak belum terjadi lantaran masih adanya pekerja yang baru libur pada 12 Juni.

photo
Infografis Cara Rasulullah Lalui Perjalanan Jauh

"Mungkin karena banyaK THR ya, pulang naik pesawat. Kalau benar ya alhamdulillah. Tapi kita siapkan worst scenario," kata Tito.

Ia menjelaskan, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) telah menyiapkan kontingensi untuk mengatasi puncak arus mudik yang diperkirakan H-3 hingga H-1 lebaran nanti. Pertama, dalam bentuk pengelolaan sepeda motor. Dermaga 6 di Pelabuhan Merak akan digunakan untuk sepeda motor dan diperkirakan muat 8.000 motor di sana.

Kemudian, penyeberangan menuju Pelabuhan Bakauheni akan menggunakan kapal besar yang ada. Kemudian, port time atau waktu bongkar muat kapal juga akan dipercepat. Dengan demikian, lanjut Tito, otomatis kapal dapat mengangkut lebih banyak penumpang.

"Pengaturan jelang masuk pelabuhan disiapkan melalui kerja sama dengan TNI, Polri, dan pihak-pihak terkait lainya," ungkap dia.

Jika antrean kendaraan tumpah hingga ke jalan tol, sambungnya, maka toilet, tenaga kesehatan, dan suplai BBM akan diperkuat. Semua itu dilakukan agar masyarakat yang hendak kembali ke kampung halaman tak terjebak ke dalam kesulitan.

"Berita bagusnya, dari Kepala BMKG, ombak relatif tenang. Maksimal 1,7 meter itu relatif tenang. Artinya tak akan mengganggu jalur lalu lintas kapal," jelas Tito.

Terpopuler