Pesan Akhir Ramadhan

Rep: Novita Intan/ Red: Andi Nur Aminah

 Kamis 07 Jun 2018 19:08 WIB

Suasana iktikaf pada 10 akhir Ramadhan di sebuah masjid. Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang Suasana iktikaf pada 10 akhir Ramadhan di sebuah...

Kerinduan karena perpisahan dengan Ramadhan dirasakan umat Islam di seluruh dunia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bergulirnya waktu tak terasa telah menghantarkan kita di pengujung bulan suci Ramadhan. Tamu agung itu kini akan berpamitan meninggalkan kita dengan sejuta pelajaran dan kebaikan sebagai hadiah terbaik bagi kita semua.

Deraian air mata kerinduan karena perpisahan dengan tamu agung ini dirasakan oleh umat Islam di seluruh dunia, sebagaimana para sahabat meneteskan air mata kesedihan karena takut tidak bisa bertemu kembali dengannya. Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Mohammad Siddiq pun meminta umat tetap menjaga ibadahnya pascaRamadhan.

"Selalu tetap berdoa kepada Allah selepas menikmati Ramadhan, kemudian ikhtiar lain, menjaga kesehatan, jangan menyia-nyiakan hidup," ujarnya ketika dihubungi Republika.co.id, Jakarta, Kamis (7/6).

Demikianlah Rasulullah meneladankan bagaimana mengisi 10 hari terakhir Ramadhan. Mohammad Siddiq mengatakan, berusahalah semaksimal mungkin fokus dalam ibadah dan memutus sementara waktu dengan segala urusan keduniawian.

Terlebih dalam rentang 10 hari terakhir Ramadhan itu, ada yang namanya Lailatul Qadar, yakni satu malam yang nilainya setara dengan seribu bulan alias 83 tahun, bahkan pada hakikatnya, jauh lebih baik dari angka tersebut.

Dalam kata yang lain, 10 hari terakhir mesti menjadi puncak usaha umat Islam dalam ibadah. Dia mengingatkan, jika yang awalnya sebatas hatam Alquran, sekarang bagaimana hatam dan paham maknanya. "Bisa meningkat ibadah, meningkat pencerahan di dalam diri. Itulah mengapa 10 hari terakhir Ramadhan disunnahkan itikaf, agar proses menuju tangga taqwa kian mudah untuk digapai," ucapnya.

Ia menambahkan, dalam 10 hari terakhir Ramadhan adalah momentum perpisahan, di mana segala perilaku yang positif di dalam diri mesti tetap terjaga di luar Ramadhan. Segala amal shaleh yang dilakukan di bulan Ramadhan, juga terus menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan diri dan keluarga sepanjang hayat. "Kita juga harus bertindak sederhana dalam hidup termasuk dalam Ramadhan sebab biasanya Ramadhan orang-orang menghamburkan uang," ucapnya.

Ia mengatakan, tantangan terberatnya adalah bagaimana menjadikan Ramadhan tetap hidup dalam rentang waktu 11 bulan ke depan, terutama setelah beberapa hari lepas dari Ramadhan, saat lebaran dan selanjutnya. Oleh karena itu, 10 hari terakhir Ramadhan inilah penentu, karena momentum tersebut adalah puncak dari tarbiyah diri, puncak dari jihad, puncak dari mujahadah. "Tentu saja harus benar-benar dapat difokuskan dan dipertahankan. Inilah momentum pembebasan yang harus benar-benar diraih dalam bulan Ramadhan," ujarnya. 

 

Berita Lainnya