Waspadai Longsor di Jalur Alternatif Garut-Tasikmalaya

Rep: Debbie Sutrisno/ Red: Andi Nur Aminah

Selasa 29 May 2018 11:35 WIB

Sejumlah pekerja dari Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang membenahi pinggiran jalan yang longsor di ruas jalan provinsi batas kabupaten Garut dan Tasikmalaya, di Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Senin (28/5). Foto: Irfan Risyadien Sejumlah pekerja dari Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang membenahi pinggiran jalan yang longsor di ruas jalan provinsi batas kabupaten Garut dan Tasikmalaya, di Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, Senin (28/5).

REPUBLIKA.CO.ID, TASIKMALAYA -- Pemudik yang ingin pulang kampung menuju Kota Tasikmalaya dan sekitarnya dari Bandung biasanya menggunakan jalur via Limbangan dan Gentong. Jalur ini merupakan jalan utama yang menjadi favorit pemudik.

Namun, ketika jalur tersebut mengalami penumpukan kendaraan, jalur Garut via Selawu untuk menuju Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya, dan selanjutnya meneruskan perjalanan ke Kota Tasikmalaya menjadi alternatif lain para pemudik. Tim Republika.co.id pun menjajal jalur ini dua pekan menjelang perayaan Idul Fitri 2018. Jalur via Selawu sebenarnya memiliki kontur jalan yang mumpuni. Aspal yang sudah baik dan minim lubang serta gelombang membuat kendaraan bisa berjalan dengan mulus.

Meski demikian, bukan berarti pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi bisa memacu kendaraan dengan kecepatan maksimal. Jalan yang berkelok dan agak sempit menjadi hal yang harus diperhatikan. Pemudik pun harus berhati-hati karena jalur yang hanya cukup oleh dua minibus ini membelah kawasan rumah warga sehingga banyak masyarakat yang kerap menyeberang.

Dari pantauan Republika.co.id, sepanjang jalan ini pun sedang ada pemasangan kabel optik. Hal tersebut membuat lebar jalan menjadi lebih sempit. Pemudik pun harus waspada karena ada tumpukan tanah yang terkadang menonjol ke arah jalan. Meski sebagian titik pengerjaannya terlihat sudah selesai, tapi masih banyak ruas jalan yang masih dikerjakan.

Selain jalan yang tidak terlalu lebar, pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi pun harus memperhatikan area yang bisa terjadi longsor. Sebab di beberapa titik jalan terdapat marka jalan yang memperlihatkan kalau daerah tersebut rawan longsor. Saat menyusuri jalur ini, sedikitnya ditemukan terdapat dua titik yang mengalami longsor.

Jika berangkat dari Garut, longsoran pertama terdapat dari sebuah bukit yang berada di kanan jalan. Meski tidak sampai ke badan jalan, tapi longsoran ini cukup besar. Saat hujan turun, tanah merah hasil longsoran bisa terbawa ke jalan.

Longsoran yang cukup membahayakan juga terdapat di jalan lintas Kampung Panyinangan, Kecamatan Selawu. Longsor ini lebih parah dari titik pertama karena longsor yang terjadi terjadi pada ruas jalan. Longsoran ini pun membuat jalan harus dijaga dan diatur lalu lintasnya oleh warga sekitar, karena kendaraan harus melaju secara bergantian.

Salah satu warga yang menjaga lalu lintas, Sodikin menuturkan bahwa longsor ini telah lama terjadi. Saat ini Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang dari Provinsi Jawa Barat telah melakukan perbaikan dengan memasang 14 tiang pancang. "Warga terus berjaga di sini. Kami juga sudah mendapat intruksi langsung dari Kapolres untuk menjaga lalu lintas," ujar Sodikin, Senin (28/5).

Berdasarkan data yang berada di dekat longsoran, tanggal kontrak pengerjaan longsoran ini dilakukan pada 17 April 2018. Untuk waktu pelaksaan perbaikan diprediksi mencapai 180 hari kalender atau sekitar enam bulan. Jika mengacu pada data tersebut, kemungkinan perbaikan ini belum bisa rampung pada saat arus mudik lebaran.

Persoalan lain jalur ini adalah minimnya penerangan jalan umum (PJU). Untuk itu pemudik diharap bisa berjalan lebih berhati-hati ketika ingin menggunakan jalur ini di malam hari. Meski demikian, pasca lokasi longsoran ini, jalan via Selawu tergolong lancar. Jika tanpa hambatan maka dari Kota Garut menuju Singparna membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam, dan dua jam menuju Kota Tasikmalaya.

 

 

Terpopuler